Tiga Pekerja Tewas dalam Tangki Minyak Ikan di Pabrik Pakan Ternak Myanmar
Baca dalam 60 detik
- Tiga pekerja ditemukan meninggal di dalam tangki penyimpanan minyak ikan di pabrik pakan ternak Zhengbang Myanmar, Bago.
- Insiden terjadi saat mereka bertugas mengolah minyak ikan untuk pakan ayam dan babi, diduga akibat kekurangan oksigen atau paparan gas beracun.
- Otoritas setempat masih menyelidiki penyebab pasti kematian, sementara jenazah telah dibawa ke rumah sakit untuk autopsi.

Sebuah insiden tragis terjadi di kawasan industri Otha New Town, Bago, Myanmar, ketika tiga pekerja pabrik pakan ternak ditemukan tewas di dalam tangki penyimpanan minyak ikan. Peristiwa ini mengungkap celah keselamatan kerja di sektor manufaktur pakan yang juga menjadi perhatian di Indonesia.
Korban diketahui bernama Aung Lin Oo, Chan Thar, dan Wai Yan Soe, yang bertugas mengoperasikan tangki baja berukuran tinggi sekitar 3 meter, lebar 2,4 meter, dan kedalaman 4,5 meter. Minyak ikan tersebut digunakan sebagai bahan baku pakan ayam dan babi di pabrik milik Zhengbang Myanmar, anak perusahaan dari konglomerat pakan ternak asal China.
Menurut sumber dari otoritas keamanan setempat, teknisi pemeliharaan pabrik, Ye Lin Thu, mencoba menghubungi Aung Lin Oo melalui interkom pabrik sekitar pukul 17.00 waktu setempat pada Senin (13/7). Setelah tidak mendapat respons, ia memeriksa tangki minyak ikan dan menemukan ketiga pekerja dalam keadaan tidak sadarkan diri. Upaya evakuasi dilakukan bersama karyawan lain, namun ketiganya sudah meninggal dunia.
Kematian mendadak di dalam ruang terbatas seperti tangki penyimpanan sering kali dikaitkan dengan kekurangan oksigen atau paparan gas beracun, seperti hidrogen sulfida yang dapat terbentuk dari dekomposisi bahan organik. Otoritas setempat telah meluncurkan penyelidikan untuk menentukan penyebab pasti, sementara jenazah dibawa ke kamar mayat Rumah Sakit Umum Bago untuk otopsi.
Insiden ini mengingatkan pada kecelakaan serupa di Indonesia, di mana pekerja di pabrik pengolahan ikan atau pakan ternak kerap menghadapi risiko terpapar gas berbahaya di ruang terbatas. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat masih banyak perusahaan yang belum menerapkan sistem keselamatan kerja secara ketat, terutama di sektor informal dan pabrik skala menengah.
Menurut analis keselamatan kerja dari Universitas Indonesia, Dr. Budi Santoso, kasus seperti ini seharusnya mendorong pengawasan lebih ketat terhadap prosedur masuk ke ruang terbatas. "Setiap pekerja yang masuk ke tangki atau ruang tertutup wajib menggunakan alat deteksi gas, tali pengaman, dan sistem pendampingan dari luar. Tanpa itu, risiko kematian sangat tinggi," ujarnya.
Pabrik Zhengbang Myanmar sendiri merupakan bagian dari rantai pasok pakan ternak regional. Dengan meningkatnya permintaan daging unggas dan babi di Asia Tenggara, tekanan produksi kerap mengorbankan aspek keselamatan. Pertanyaan yang muncul: apakah regulator di Myanmar dan Indonesia akan memperketat inspeksi setelah tragedi ini?



