Rute Baru Shinkansen Hokuriku: Stasiun Bawah Tanah di Kyoto Disepakati
Baca dalam 60 detik
- Panel partai penguasa Jepang memilih rute perpanjangan Shinkansen Hokuriku yang melewati Kyoto dengan stasiun bawah tanah baru di Katsuragawa.
- Pilihan ini mengesampingkan dua opsi lain karena pertimbangan lingkungan, warisan budaya, dan penolakan operator kereta.
- Konstruksi ditargetkan mulai tahun fiskal 2027 dengan biaya 5,5 triliun yen dan waktu pengerjaan 26 tahun.

Panel lintas partai penguasa Jepang akhirnya memutuskan rute perpanjangan jalur kereta peluru Hokuriku Shinkansen dari Tsuruga menuju Osaka yang melewati Kota Kyoto, lengkap dengan pembangunan stasiun bawah tanah baru di kawasan Katsuragawa. Keputusan yang diumumkan pada Rabu (15/7) ini mengakhiri kebuntuan panjang akibat kekhawatiran dampak lingkungan dan penolakan dari otoritas Kyoto.
Rute terpilih merupakan salah satu dari tiga opsi yang sebelumnya diajukan. Dua alternatif lainโrute utara-selatan yang melintasi Stasiun JR Kyoto dan rute yang menghubungkan langsung ke Tokaido Shinkansen di Stasiun Maibaraโdinyatakan gagal mendapatkan dukungan lokal. Menurut anggota parlemen Partai Demokrat Liberal (LDP) Shoji Nishida, opsi utara-selatan sebenarnya lebih unggul secara ekonomi, tetapi mendapat tentangan keras karena berpotensi mengganggu air tanah dan melewati kawasan padat bangunan bersejarah.
Sementara itu, opsi Maibara ditolak oleh pemerintah daerah setempat dan perusahaan JR yang enggan menambah beban jalur Tokaido yang sudah sangat padat. Jalur Tokaido sendiri merupakan tulang punggung koneksi Tokyo-Osaka yang beroperasi sejak 1964.
Rencana awal perpanjangan Hokuriku Shinkansen sebenarnya sudah disepakati pada 2016 oleh LDP dan koalisi saat itu, Komeito. Namun, pembangunan tak kunjung dimulai karena resistensi dari Kyoto. Baru setelah Partai Inovasi Jepang, mitra koalisi LDP saat ini, mengusulkan peninjauan ulang rute tahun lalu, proses kembali bergulir. Kini, dengan pemilihan rute Katsuragawa, panel optimistis proyek bisa segera direalisasikan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati sebagai studi kasus pembangunan infrastruktur transportasi massal yang berkelanjutan. Jepang kembali menunjukkan bagaimana proyek kereta cepat harus menyeimbangkan efisiensi ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan warisan budaya. Di dalam negeri, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang baru beroperasi penuh pada 2023 juga menghadapi tantangan serupa, meski dalam skala yang berbeda. Keputusan Kyoto bisa menjadi referensi bagi pemerintah Indonesia dalam merencanakan perluasan jalur kereta cepat ke kota-kota lain, terutama yang memiliki kawasan cagar budaya.
Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang memperkirakan pembangunan rute baru ini memakan waktu 26 tahun dengan biaya 5,5 triliun yen (sekitar Rp 600 triliun). Angka tersebut sudah memperhitungkan kenaikan harga di masa depan. Stasiun bawah tanah di Katsuragawa akan dibangun sekitar 5 kilometer di barat Stasiun JR Kyoto, menjadi titik masuk baru bagi penumpang dari ibu kota budaya Jepang.
Hokuriku Shinkansen sendiri telah beroperasi sejak 1973 sebagai bagian dari rencana pembangunan nasional. Ruas terakhir yang dibuka adalah segmen Kanazawa-Tsuruga pada 2024. Dengan keputusan rute ini, jaringan kereta peluru Jepang akan semakin mendekati target ambisiusnya: menghubungkan Tokyo dan Osaka melalui jalur utara. Pertanyaan besarnya, mampukah Jepang menyelesaikan proyek raksasa ini tepat waktu di tengah tantangan geografis dan biaya yang membengkak?



