Mahasiswa Jepang Raih Penghargaan Apple Berkat Aplikasi Musik Berbasis Tangga Nada Dunia
Baca dalam 60 detik
- Runa Motozaki, mahasiswa Universitas Prefektur Kumamoto, mengembangkan aplikasi 'World Scale' yang memungkinkan pengguna menciptakan melodi menggunakan 13 tangga nada tradisional dari berbagai negara.
- Aplikasi ini dirancang intuitif dengan ilustrasi planet sebagai pengganti not balok, sehingga dapat dinikmati oleh penyandang tunarungu dan pengguna awam tanpa pengetahuan musik.
- Motozaki berencana mengintegrasikan konteks sejarah dan budaya di balik tangga nada ke dalam aplikasi, serta menjajaki potensinya sebagai alat bantu pendidikan anak.

Seorang mahasiswi Universitas Prefektur Kumamoto, Jepang, berhasil menyabet penghargaan dalam kompetisi pengembangan aplikasi global yang digelar Apple untuk para pelajar. Runa Motozaki, 21 tahun, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Administrasi, meraih pengakuan berkat aplikasi ciptaannya yang memadukan teknologi dan keragaman musik dunia.
Aplikasi bernama "World Scale" ini memungkinkan pengguna menciptakan melodi secara instan menggunakan 13 jenis tangga nada tradisional dari berbagai belahan dunia. Cukup dengan memilih negara atau wilayah, lalu menyentuh layar untuk menempatkan nada-nada khas daerah tersebut pada garis paranada. Misalnya, tangga nada Okinawa yang terdiri dari lima notโdo, mi, fa, so, tiโbisa langsung dirangkai menjadi melodi spontan.
Motozaki, yang sejak usia sembilan tahun bermain trompet di ensembel tiup, mengaku tertarik pada keragaman tangga nada musik dunia setelah mendalami berbagai genre. Ia menyadari bahwa tangga nada tidak sekadar susunan not, melainkan cerminan sejarah dan budaya suatu masyarakat. "Saya ingin menyampaikan daya tarik tangga nada kepada banyak orang," ujarnya.
Laboratorium yang dipimpin profesor Ichiro Iimura, tempat Motozaki bernaung, telah melahirkan pemenang kompetisi Apple setiap tahun. Melihat peluang ini, Motozaki memutuskan untuk ikut serta. Ia melihat kompetisi sebagai ajang menyebarkan pesan keberagaman musik global. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah membuat aplikasi yang mudah dipahami secara intuitif bahkan oleh orang yang tidak mengerti tangga nada. "Saya harus menyampaikan daya tariknya secara instan," kenangnya.
Untuk menjangkau pengguna dengan keterbatasan pendengaran, Motozaki mengganti not balok dengan ilustrasi planet. Dengan demikian, melodi dapat divisualisasikan tanpa harus mengandalkan suara. Pendekatan inklusif ini mendapat nilai tinggi dari juri, dan Motozaki terpilih sebagai salah satu dari 350 pemenang dari seluruh dunia. Iimura memuji desain aplikasi yang langsung bisa dipahami begitu dilihat.
Ke depan, Motozaki berencana menjadikan riset ini sebagai bahan skripsi dan terus mengembangkan aplikasi. Ia juga mempertimbangkan potensi aplikasi sebagai media pembelajaran anak. "Saya ingin membuat pengguna bisa mempelajari latar belakang sejarah dan budaya dari tangga nada," ungkapnya penuh semangat. Langkah ini membuka peluang bagi kolaborasi lintas disiplin antara teknologi, pendidikan, dan etnomusikologi.
Bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan tangga nada tradisional seperti pelog, slendro, dan berbagai skala daerah, inovasi Motozaki bisa menjadi inspirasi. Aplikasi serupa yang mengadaptasi tangga nada Nusantara berpotensi memperkenalkan warisan budaya musik Indonesia ke kancah global sekaligus menjadi alat edukasi yang menarik. Pertanyaannya, akankah pengembang lokal mengambil peluang ini?



