TYLSemi Kantongi Dana Segar Rp 690 Miliar untuk Chip AI Modular, Tantang Hegemoni Broadcom
Baca dalam 60 detik
- Startup semikonduktor TYLSemi meraih pendanaan awal senilai 43 juta dolar AS untuk mengembangkan chiplet AI berbasis standar terbuka.
- Pendekatan modular ini memungkinkan pelanggan merakit chip AI kustom tanpa terikat vendor tertentu, berbeda dari model proprietary Broadcom dan Marvell.
- Keberhasilan TYLSemi berpotensi mengubah lanskap industri chip AI global, termasuk rantai pasok semikonduktor di Asia Tenggara dan Indonesia.

TYLSemi, startup semikonduktor yang didirikan oleh mantan eksekutif AlphaWave—perusahaan yang baru diakuisisi Qualcomm—mengumumkan perolehan pendanaan tahap awal senilai 43 juta dolar AS atau sekitar Rp 690 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan chiplet AI modular yang memungkinkan perusahaan mana pun merakit akselerator kecerdasan buatan sesuai kebutuhan, tanpa harus bergantung pada satu pemasok tunggal.
Pendekatan ini lahir di tengah booming-nya pasar chip kustom AI. Raksasa teknologi seperti Meta Platforms saat ini bekerja sama dengan Broadcom dan Marvell Technology untuk membuat semikonduktor khusus. Namun, kedua vendor tersebut menggunakan teknologi proprietary untuk menghubungkan antar-chip, sehingga pelanggan terkunci dalam ekosistem mereka. TYLSemi menawarkan alternatif: chiplet berbasis standar industri terbuka yang bisa dikombinasikan dengan komponen dari penyedia lain.
“Kemajuan terjadi melalui standardisasi,” ujar Mohit Gupta, salah satu pendiri TYLSemi, dalam wawancara dengan Reuters. “Ketika Anda melakukan penguncian proprietary, itu hanya permainan jangka pendek. Anda memang bisa memeras pelanggan karena posisi Anda, tapi itu tidak sehat bagi pasar.”
Pendanaan putaran ini dipimpin oleh Matter Venture Partners, dengan partisipasi Viola Ventures, GHOVC, dan Egis Technology. TYLSemi juga mengamankan investasi strategis dari sejumlah perusahaan terkemuka di ekosistem semikonduktor dan infrastruktur AI global, meski identitas mereka tidak diungkapkan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, model chiplet terbuka bisa menurunkan hambatan masuk bagi perusahaan lokal yang ingin mengembangkan akselerator AI untuk industri seperti pertanian, logistik, atau keuangan. Di sisi lain, ketergantungan pada standar global dan kekayaan intelektual asing masih menjadi kendala. Pemerintah Indonesia melalui kebijakan Making Indonesia 4.0 dan pengembangan ekosistem semikonduktor nasional perlu mencermati tren ini agar tidak tertinggal dalam rantai pasok AI global.
Ke depan, keberhasilan TYLSemi akan diuji oleh kemampuannya meyakinkan pelanggan bahwa chiplet terbuka mampu menyaingi performa solusi proprietary. Jika terbukti, model ini bisa menjadi standar baru industri—dan mengubah peta persaingan chip AI yang selama ini dikuasai segelintir pemain besar. Pertanyaannya, akankah raksasa seperti Broadcom dan Marvell merespons dengan membuka sebagian teknologi mereka, atau justru memperketat penguncian?



