S&P Pertahankan Rating Investment Grade, BEI: Fundamental Pasar RI Kokoh
Baca dalam 60 detik
- S&P Global Ratings mengonfirmasi peringkat utang Indonesia di BBB dengan outlook stabil, menegaskan ketahanan ekonomi nasional.
- Keputusan tersebut langsung mendorong IHSG rebound hampir 2% pada penutupan perdagangan, meredam tekanan jual yang sebelumnya terjadi.
- Direktur Utama BEI optimistis langkah S&P akan diikuti lembaga pemeringkat lain, memperkuat kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia.

Keputusan Standard & Poor's (S&P) Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level investment grade BBB dengan prospek stabil menjadi katalis positif yang menghentikan aksi jual di bursa saham pada Senin pekan lalu. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa pengumuman tersebut menjadi bukti fundamental ekonomi dan pasar keuangan Tanah Air masih kokoh di tengah gejolak global.
Dalam acara Investment Forum 2026 yang digelar CNBC Indonesia di Main Hall BEI, Rabu (15/7/2026), Jeffrey mengungkapkan bahwa rilis S&P datang hanya 15 menit sebelum penutupan perdagangan. Saat itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan di zona merah. Namun, begitu kabar baik itu beredar, indeks langsung berbalik arah dan ditutup menguat hampir 2 persen. "Ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap sentimen kepercayaan," ujarnya.
Jeffrey menilai keputusan S&P tidak hanya berdampak pada pergerakan jangka pendek, tetapi juga membantu meredam ketidakpastian yang belakangan membayangi investor. Faktor eksternal seperti normalisasi suku bunga global dan ketegangan geopolitik, ditambah dinamika domestik, membuat risiko sistematis sulit diprediksi. "Dengan adanya kepastian rating, investor bisa mengukur risiko investasi dengan lebih baik. Risiko sistematik yang tadinya tinggi kini lebih terkendali," jelas dia.
Bagi investor Indonesia, terutama pelaku pasar modal, konfirmasi rating ini menjadi sinyal bahwa risiko kredit negara masih dalam kategori aman. Hal ini penting karena memengaruhi biaya pinjaman pemerintah dan korporasi, serta aliran modal asing. Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan jual asing cukup terasa akibat ketidakpastian global. Dengan outlook stabil, peluang reinvestasi portofolio asing di pasar obligasi dan saham kembali terbuka.
Jeffrey juga menyampaikan optimisme bahwa pengumuman positif dari S&P akan diikuti oleh lembaga pemeringkat internasional lainnya, seperti Moody's dan Fitch. "Kami berharap rating agencies dan penyedia indeks global lain akan menyusul," katanya. Jika terealisasi, hal ini dapat memperkuat posisi Indonesia di mata investor global dan mendorong masuknya dana asing ke instrumen keuangan domestik.
Ke depan, tantangan tetap ada. Pasar masih menanti data inflasi dan kebijakan moneter bank sentral AS yang bisa memicu volatilitas. Namun, dengan fondasi yang solid dan dukungan lembaga pemeringkat, BEI optimistis IHSG dapat melanjutkan tren positif. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah lembaga pemeringkat lain benar-benar mengikuti jejak S&P, dan seberapa cepat dampaknya terasa di lantai bursa?



