Duel Bursa Transfer Sunderland: Roony Bardghji atau Matias Soule untuk Sayap Kanan?
Baca dalam 60 detik
- Sunderland membidik dua pemain sayap kanan, Matias Soule (Roma) dan Roony Bardghji (Barcelona), untuk memperkuat skuad musim depan.
- Meski Soule lebih matang secara statistik, data per 90 menit menunjukkan Bardghji unggul dalam menciptakan peluang dan dribel, menjanjikan potensi lebih besar.
- Keputusan Sunderland akan menjadi taruhan antara pengalaman instan Soule atau prospek jangka panjang Bardghji yang lebih berisiko namun berpotensi lebih tinggi.

Sunderland tengah menghadapi dilema menarik di bursa transfer musim panas ini. Klub Liga Premier Inggris itu dikabarkan mengincar dua pemain sayap kanan sekaligus: Matias Soule dari Roma dan Roony Bardghji dari Barcelona. Keduanya menawarkan profil berbeda, dan pilihan yang diambil bisa menentukan daya saing The Black Cats di kompetisi domestik dan Eropa musim depan.
Menurut laporan media Spanyol, Sport, Sunderland telah melakukan pendekatan awal kepada Barcelona untuk membahas kemungkinan merekrut Bardghji. Pemain asal Swedia berusia 20 tahun itu digambarkan oleh direktur olahraga Barcelona, Deco, sebagai pemain yang "mirip dengan Lamine Yamal." Namun, Bardghji kesulitan mendapatkan menit bermain reguler di Camp Nou, hanya tampil sebagai starter dalam delapan pertandingan LaLiga dan Liga Champions sepanjang musim 2025/26.
Di sisi lain, Soule—yang dibanderol Roma sebesar 30 juta pound sterling—telah menunjukkan konsistensi di Serie A. Dalam dua musim terakhir bersama Roma, pemain Argentina berusia 23 tahun itu mencatatkan 11 gol dan 10 assist dari posisi sayap kanan. Sunderland dikabarkan telah mengadakan pembicaraan dengan Roma, namun belum ada kepastian apakah mereka bersedia membayar mahar tersebut.
Perbandingan kedua pemain tidak bisa hanya dilihat dari angka mentah. Secara kasat mata, Soule adalah opsi yang lebih aman: sudah teruji di liga top Eropa, memiliki postur fisik matang, dan bisa langsung diandalkan sebagai starter. Namun, analisis statistik per 90 menit justru menunjukkan Bardghji memiliki potensi lebih eksplosif. Pemain muda Swedia itu tercatat lebih sering berada di posisi berbahaya, menciptakan peluang berkualitas tinggi, dan lebih agresif dalam duel satu lawan satu.
Manajer Sunderland, Regis Le Bris, yang musim lalu kerap menggunakan formasi 4-2-3-1, membutuhkan sosok tepat di sisi kanan untuk melengkapi trio penyerang bersama Enzo Le Fee (gelandang serang) dan Chemsdine Talbi (kiri). Soule, dengan kaki kirinya yang kuat, cocok sebagai pemain cut-inside. Bardghji, meski lebih muda, menawarkan variasi permainan yang lebih langsung dan berani.
Konteks ini menarik jika dilihat dari perspektif Indonesia. Meski tidak ada pemain Indonesia yang terlibat langsung, pola perekrutan klub-klub Eropa seperti Sunderland bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Tanah Air: bagaimana menyeimbangkan antara merekrut pemain siap pakai dengan investasi jangka panjang pada talenta muda. Di era persaingan ketat Liga 1, klub-klub Indonesia kerap dihadapkan pada pilihan serupa—antara pemain asing berpengalaman atau prospek muda dengan harga lebih murah namun berisiko.
Barcelona sendiri dikabarkan lebih memilih menjual Bardghji dengan klausul pembelian kembali, meski opsi peminjaman juga terbuka. Sunderland tidak sendirian dalam perburuan ini; Leeds United, Brighton, dan Aston Villa juga dikabarkan tertarik. Situasi ini bisa memicu perang penawaran yang menguntungkan Barcelona.
Keputusan akhir Sunderland akan menjadi cerminan strategi jangka pendek versus jangka panjang. Apakah mereka akan mengeluarkan dana besar untuk Soule yang siap tempur, atau mengambil risiko dengan Bardghji yang potensial namun belum terbukti? Jawabannya mungkin akan menentukan apakah The Black Cats bisa bersaing di papan atas Liga Premier dan melaju jauh di Europa League musim depan.



