Pertumbuhan Ekonomi China Kuartal II 2026 Melambat, Konsumsi Domestik Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- PDB China kuartal II 2026 tumbuh 4,3% (year-on-year), di bawah target pemerintah 4,5-5% dan lebih rendah dari kuartal sebelumnya 5,0%.
- Konsumsi domestik lemah tercermin dari pertumbuhan ritel hanya 1,3% dan investasi properti ambles 18%, sementara ekspor dan impor masih tumbuh dua digit.
- IMF memproyeksikan ekonomi China tumbuh 4,6% sepanjang 2026, melambat dari 5,0% di 2025, dengan risiko perlambatan lebih lanjut pada 2027.

Perekonomian China kembali menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Produk domestik bruto (PDB) riil pada kuartal kedua 2026 hanya tumbuh 4,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meleset dari target pemerintah yang dipatok di kisaran 4,5 hingga 5 persen. Angka ini juga lebih rendah dari pertumbuhan 5,0 persen yang tercatat pada tiga bulan pertama tahun ini.
Biro Statistik Nasional China, Rabu (15/7/2026), melaporkan bahwa secara kuartalan, ekonomi Negeri Panda hanya berekspansi 0,9 persen, melambat dari 1,3 persen pada kuartal pertama. Pelemahan ini terutama dipicu oleh konsumsi domestik yang lesu, meskipun sektor produksi dan perdagangan luar negeri masih menunjukkan kinerja positif.
Data menunjukkan bahwa pada semester pertama 2026, penjualan ritel barang konsumen hanya naik 1,3 persen secara tahunan. Sementara itu, investasi aset tetap (tidak termasuk rumah tangga pedesaan) justru terkontraksi 5,7 persen. Sektor properti yang sedang terpuruk menjadi beban utama, dengan investasi pengembangan real estat ambles hingga 18,0 persen. Krisis properti yang berkepanjangan terus menghantui perekonomian China, mengurangi daya beli masyarakat dan kepercayaan investor.
Di sisi lain, sektor manufaktur China yang dijuluki "pabrik dunia" masih tumbuh 5,4 persen. Nilai ekspor melonjak 13,4 persen, sementara impor meroket 22,1 persenโmenunjukkan bahwa permintaan eksternal masih kuat, namun impor yang tinggi juga bisa mengindikasikan ketergantungan pada bahan baku luar negeri. Ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan domestik yang lemah menjadi sorotan utama Biro Statistik Nasional. Dalam pernyataannya, biro tersebut mengakui bahwa "lingkungan eksternal menjadi semakin tidak stabil dan tidak pasti, ketidakseimbangan antara pasokan kuat dan permintaan lemah masih akut di dalam negeri, dan fondasi pemulihan ekonomi masih perlu dikonsolidasikan."
Pemerintah China sebenarnya telah menyiapkan strategi jangka panjang. Beberapa hari sebelum rilis data PDB, Beijing mengumumkan target ambisius untuk meningkatkan total penjualan ritel barang konsumen menjadi sekitar 60 triliun yuan (sekitar 9 triliun dolar AS) pada 2030โnaik sekitar 20 persen dari level 2025. Rencana ini bertujuan memperkuat "peran konsumsi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi." Namun, capaian jangka pendek masih jauh dari harapan. Dana Moneter Internasional (IMF) pekan lalu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China tahun ini hanya 4,6 persen, melambat dari 5,0 persen pada 2025, dan diperkirakan terus turun menjadi 4,1 persen pada 2027.
Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi China membawa implikasi ganda. Di satu sisi, permintaan China yang lebih rendah dapat menekan harga komoditas ekspor Indonesia seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit. Namun di sisi lain, impor China yang masih tumbuh tinggi (22,1 persen) membuka peluang bagi produk Indonesia yang kompetitif. Pemerintah Indonesia perlu mencermati kebijakan stimulus konsumsi China ke depan, karena setiap perubahan di negara mitra dagang terbesar kedua Indonesia ini akan berdampak langsung pada neraca perdagangan dan investasi. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah China mendorong konsumsi domestiknya cukup cepat untuk mengimbangi perlambatan sektor properti dan menjaga momentum pertumbuhan global?



