Konflik Teluk Memakan Korban: 13 WNI Tewas, Tiga Hilang dalam Perang AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- Sejak pecahnya perang AS-Iran pada 28 Februari, 13 warga India tewas dan tiga hilang di kawasan Teluk, sebagian besar menjadi korban serangan terhadap kapal dagang.
- Dua kapal berbendara asing yang membawa 30 pelaut India diserang di Selat Hormuz, menewaskan satu orang dan melukai sembilan lainnya, memicu protes keras New Delhi.
- Konflik ini mengancam jalur energi global melalui Selat Hormuz, yang berimplikasi langsung pada stabilitas pasokan minyak dan harga energi di Indonesia.

Tiga belas warga India dilaporkan tewas dan tiga lainnya masih dinyatakan hilang di kawasan Teluk sejak pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran pada 28 Februari lalu. Korban jiwa tersebut sebagian besar merupakan awak kapal dagang yang menjadi sasaran serangan militer di perairan Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis bagi pasokan energi global.
Menurut sumber pemerintah India, serangan terbaru terjadi pada Selasa lalu ketika dua kapal—MT Al Bahiyah dan MT Mombasa—yang sedang melintasi Selat Hormuz diserang oleh pasukan Iran. Kedua kapal itu membawa total 46 awak, di antaranya 30 warga India. Satu pelaut India di MT Al Bahiyah tewas dan satu lainnya luka-luka, sementara di MT Mombasa sembilan orang mengalami cedera, termasuk dua dalam kondisi kritis.
Kementerian Luar Negeri India segera memanggil Kuasa Usaha Kedutaan Besar Iran di New Delhi untuk menyampaikan protes keras. Juru Bicara Kemlu Randhir Jaiswal menegaskan bahwa India mengutuk serangan tersebut dan mendesak agar tindakan militer terhadap kapal sipil segera dihentikan. “Kami kehilangan satu nyawa warga India yang berharga, dan beberapa lainnya terluka. Kami menyampaikan protes paling keras kepada pihak Iran,” ujarnya dalam konferensi pers.
Sebelumnya, pada bulan lalu, tiga pelaut India tewas setelah kapal mereka, MT Settebello, diserang oleh Angkatan Laut AS di Teluk Oman. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), kapal tanker minyak tersebut dianggap melanggar blokade yang sedang berlangsung dengan mencoba mengangkut minyak dari Iran. Insiden ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya menimbulkan korban dari satu sisi, tetapi juga menjerat pelaut sipil yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran.
Konflik di Asia Barat ini dipicu oleh gagalnya negosiasi kesepakatan nuklir antara AS dan Iran, yang kemudian berujung pada perang terbuka. Dampaknya langsung terasa pada rantai pasok energi global karena Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20% minyak dunia—menjadi zona pertempuran. Gangguan di jalur ini telah mendorong lonjakan harga minyak mentah dan menimbulkan kekhawatiran akan krisis energi yang lebih luas.
Bagi Indonesia, situasi ini memiliki implikasi serius. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan pasokan dari Timur Tengah berpotensi menaikkan harga BBM di dalam negeri dan memperburuk tekanan inflasi. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak jangka panjang dengan mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat kerja sama diplomatik untuk menjaga stabilitas kawasan. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana konflik ini akan mempengaruhi ketahanan energi Indonesia, dan langkah apa yang siap diambil Jakarta untuk melindungi kepentingan nasional di tengah ketidakpastian global?



