Dari Pinggir Jalan ke Panggung Global: Liga Tari Profesional Jepang Siap Ekspansi ke Asia
Baca dalam 60 detik
- Daiichi Life D-League, liga tari hip-hop profesional pertama di Jepang, menuntaskan musim keenam dengan 16 tim dan 223 peserta.
- Liga ini lahir dari kolaborasi agensi bakat LDH Japan dan pengusaha Takehito Hirano, didorong oleh kebijakan pendidikan yang mewajibkan tari di SMP sejak 2012.
- Rencana ekspansi ke Osaka, Nagoya, Fukuoka, dan Asia Tenggara menandai ambisi menjangkau pasar global, termasuk potensi daya tarik bagi penari Indonesia.

Liga tari hip-hop profesional pertama di Jepang, Daiichi Life D-League, sukses menggelar final musim keenam pada 31 Mei lalu dengan menyedot perhatian ribuan penonton. Ajang yang lahir pada 2021 ini bukan sekadar kompetisi tari, melainkan cerminan transformasi street dance menjadi industri hiburan yang terstruktur, bahkan berambisi menembus pasar global.
Dikonsep oleh LDH Japan Inc.—agensi di balik grup populer Exile—dan Takehito Hirano, presiden Fullcast Holdings yang juga pencinta tari, liga ini awalnya hanya diikuti 97 penari yang terbagi dalam sembilan tim. Kini, setelah pembatasan pandemi dicabut, jumlah peserta membengkak menjadi 223 orang dari 16 tim, dengan sembilan sponsor korporat. Pertandingan digelar di Toyota Arena Tokyo, yang kerap penuh sesak selama dua hari berturut-turut setiap bulannya.
Salah satu faktor kunci di balik popularitas liga ini adalah kebijakan pemerintah Jepang yang mewajibkan tari sebagai bagian dari pendidikan jasmani di tingkat SMP sejak 2012. Hirano, yang juga menjabat CEO D-League, menyebut langkah tersebut sebagai "titik balik terbesar" yang mengubah citra tari dari aktivitas pinggiran menjadi kegiatan positif dan kooperatif. Ditambah dengan gencarnya promosi di media sosial, minat generasi muda terhadap street dance pun melonjak.
Format kompetisi yang unik turut mendongkrak keterlibatan penggemar. Setiap tim yang terdiri dari delapan penari tampil selama sekitar dua menit, memadukan breaking dan gaya hip-hop lainnya. Penilaian dilakukan dengan sistem 50 persen dari juri ahli dan 50 persen dari suara penonton, termasuk yang menonton secara daring. Hal ini membuat penonton merasa memiliki andil dalam hasil pertandingan.
Final musim keenam mempertemukan tim-tim terbaik di hadapan sekitar 6.500 penonton. Fullcast Raisers akhirnya keluar sebagai juara untuk pertama kalinya. Salah satu momen yang paling dinanti adalah penampilan Shigekix—nama panggung Shigeyuki Nakarai, peraih peringkat keempat Olimpiade Paris 2024 di nomor breaking—yang menjadi ace dancer tim Kose 8Rocks. Menurut Nakarai, kompetisi tim seperti D-League memberikan tantangan berbeda dibanding ajang individu.
Bagi Indonesia, perkembangan D-League membuka peluang dan persaingan baru. Komunitas tari jalanan di Tanah Air, seperti breakdance dan hip-hop, sudah lama tumbuh subur secara organik. Namun, belum ada liga profesional yang terstruktur seperti di Jepang. Jika D-League benar-benar merambah Asia Tenggara, penari Indonesia berpotensi menjadi peserta atau bahkan daya tarik tersendiri bagi liga tersebut. Di sisi lain, model bisnis yang menggabungkan sponsor korporat, tontonan langsung, dan partisipasi digital bisa menjadi referensi bagi pengembangan industri tari di Indonesia.
Ke depan, D-League berencana menambah jumlah tim menjadi 20 pada musim depan dan menggelar pertandingan di kota-kota besar Jepang seperti Osaka, Nagoya, dan Fukuoka, serta di Asia Tenggara. "Kami akan mempercepat laju pertumbuhan," ujar Hirano. Pertanyaannya, mampukah street dance Jepang—yang kini telah menjelma menjadi tontonan profesional—menembus pasar global dan menginspirasi lahirnya liga serupa di negara lain, termasuk Indonesia?



