Perjanjian Dagang India-Inggris: Handuk Wimbledon hingga Wiski Skotch Kini Lebih Murah
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan perdagangan bebas India-Inggris mulai berlaku, menghapus atau menurunkan tarif pada 99% ekspor India dan 90% impor Inggris.
- Sektor tekstil, garmen, dan minuman beralkohol diproyeksikan menjadi yang paling diuntungkan, dengan potensi ekspor India ke Inggris tumbuh dua digit.
- Namun, tantangan seperti pajak karbon Inggris (CBAM) dan rendahnya utilisasi FTA oleh usaha kecil India bisa mengurangi dampak optimal perjanjian.

Perjanjian perdagangan bebas (FTA) antara India dan Inggris yang mulai berlaku pekan ini langsung memicu geliat di sektor tekstil, garmen, hingga minuman beralkohol. Produsen handuk Wimbledon, Welspun Living, misalnya, telah menyiapkan diri untuk memanfaatkan penurunan tarif yang signifikan, sementara importir wiski Skotch di Delhi bersiap mengkalkulasi ulang harga jual.
FTA antara ekonomi terbesar kelima dan keenam dunia ini menghapus atau menurunkan tarif pada 99% ekspor India ke Inggris dan 90% impor Inggris ke India. Pemerintah Inggris menyebutnya sebagai "pakta dagang bilateral terbesar dan paling signifikan secara ekonomi" sejak Brexit, dengan proyeksi peningkatan PDB Inggris sebesar 0,13% (setara ยฃ4,8 miliar) dan India 0,06% (ยฃ5,1 miliar) per tahun dalam jangka panjang.
Bagi India, sektor padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, mobil, dan produk kelautan menjadi andalan. Dipali Goenka, CEO Welspun Living, mengungkapkan bahwa banyak merek ritel Inggris seperti John Lewis dan Tesco telah mengunjungi India untuk menyusun peta bisnis jangka panjang. "Kami biasanya hanya melakukan perencanaan bersama untuk pelanggan AS, tetapi sekarang dengan kesepakatan ini, hal yang sama terjadi dengan klien Inggris," ujarnya. Goenka menargetkan pertumbuhan ekspor ke Inggris bisa mencapai dua digit, mengingat sebelumnya India harus membayar tarif 12% sementara pesaing seperti Bangladesh dan Pakistan masuk bebas bea melalui Skema Perdagangan Negara Berkembang (DCTS). Pangsa pasar tekstil rumah tangga India di Inggris saat ini hanya 6-7%, jauh di bawah Pakistan yang mencapai 55%.
Di sisi lain, penurunan bea masuk wiski Skotch dari 150% menjadi 75% seketika, lalu bertahap hingga 40% dalam 10 tahun, disambut antusias oleh importir. Avneet Singh dari Modern Drinks Pvt Ltd di Delhi menyebutnya sebagai "pergeseran nyata, bukan sekadar penyesuaian kecil". Namun, ia mengakui bahwa saat ini masih dalam fase persiapan operasional, seperti memastikan sertifikat asal dan dokumen kepabeanan, bukan ekspansi besar-besaran. Perubahan signifikan baru akan terlihat setelah para pelaku bisnis merasakan penghematan aktual dari tarif baru.
Meski optimisme mengemuka, sejumlah analis mengingatkan bahwa dampak keseluruhan FTA ini mungkin "bertahap, bukan transformasional". Ajay Srivastava dari Global Trade Research Initiative (GTRI) di Delhi menekankan bahwa indikator keberhasilan sebenarnya adalah apakah produk yang sebelumnya dikenai tarif 4-16%โseperti tekstil, garmen, alas kaki, karpet, mobil, makanan laut, anggur, dan manggaโmengalami peningkatan pesanan, volume ekspor, dan margin keuntungan. "Dampak FTA akan terlihat dalam satu hingga tiga tahun ke depan," ujarnya.
Namun, beberapa hambatan masih mengintai. Inggris tetap mempertahankan tarif impor baja di atas kuota tertentu untuk melindungi produsen dalam negeri. Lebih krusial lagi, rencana pajak karbon perbatasan Inggris (CBAM) berpotensi menggerus keuntungan FTA. Srivastava memperingatkan bahwa meskipun tarif turun menjadi nol, beban karbon dapat meningkatkan biaya efektif ekspor India di sektor yang tercakup CBAM, menciptakan gesekan dagang baru.
Selain itu, utilisasi FTA oleh India secara historis rendah. Hanya sekitar 20-30% ekspor yang memanfaatkan preferensi tarif karena kurangnya sosialisasi, terutama di kalangan usaha kecil. Banyak eksportir garmen, misalnya, harus secara aktif memberi tahu pembeli Inggris bahwa bea masuk kemeja turun dari 12% menjadi 0%, lalu merenegosiasi harga. Tanpa pelatihan dan dukungan asosiasi industri, penurunan tarif tidak otomatis mendongkrak ekspor.
Bagi Indonesia, dinamika FTA India-Inggris ini relevan sebagai cermin. Indonesia sendiri tengah menjajaki perjanjian serupa dengan Inggris dan Uni Eropa. Pengalaman India menunjukkan bahwa penurunan tarif saja tidak cukup; diperlukan kesiapan logistik, pemahaman aturan asal barang, dan antisipasi terhadap hambatan non-tarif seperti pajak karbon. Jika Indonesia ingin memanfaatkan peluang serupa, penguatan kapasitas eksportir kecil dan negosiasi ketat terkait CBAM menjadi krusial.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah FTA ini mampu mendorong diversifikasi sumber bagi Inggris yang mulai menjauh dari China dan Bangladesh. CareEdge Research memperkirakan perdagangan bilateral bisa tumbuh 15% per tahun, lebih tinggi dari laju saat ini 10-12%. Namun, semua itu tergantung pada sejauh mana para pelaku usaha mampu mengatasi hambatan teknis dan memanfaatkan celah yang ada. Akankah India benar-benar merebut pangsa pasar yang ditinggalkan China? Atau justru terhambat oleh aturan karbon yang semakin ketat? Jawabannya baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.



