Deretan Bintang Sitkom Inggris Bersatu dalam Podcast Komedi Tunanetra
Baca dalam 60 detik
- Steve Pemberton, Alison Steadman, dan Chloe Petts bergabung dalam serial audio komedi 'You've Got Braille' yang mengangkat keseharian seorang tunanetra.
- Naskah ditulis oleh Reece Finnegan yang tunanetra sejak kecil, bekerja sama dengan Jack Bernhardt, diproduksi oleh Hat Trick bersama RNIB.
- Empat episode podcast akan dirilis pada 17 Juli 2026, menawarkan perspektif segar tentang disabilitas melalui humor.

Sejumlah bintang papan atas komedi Inggris—dari Inside No. 9, Gavin and Stacey, hingga The Inbetweeners—bersatu dalam proyek audio anyar bertajuk You've Got Braille, sebuah sitkom yang mengupas keseharian seorang pemuda tunanetra dengan balutan humor segar.
Serial empat episode ini akan dirilis dalam format podcast pada 17 Juli 2026. Di balik layar, naskah ditulis oleh Reece Finnegan—yang sejak kecil terdaftar sebagai tunanetra—bersama Jack Bernhardt, pembawa acara Taskmaster: The People's Podcast. Finnegan juga akan memerankan tokoh utama, Paddy, yang digambarkan sebagai pemuda berusia dua puluhan yang ceroboh, mudah terpengaruh teman, dan berjuang menjalani hidup seperti kebanyakan anak muda—dengan satu lapisan tantangan ekstra: kebutaan.
Dalam pernyataan resmi, tim produksi menyebut You've Got Braille sebagai cerita tentang "menjadi buta... dan sedikit bodoh". Paddy bukanlah sosok sempurna yang diidealkan masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Ia justru digambarkan sebagai "salah satu anggota Inbetweeners yang sudah lulus sekolah, tumbuh dewasa, dan kebetulan buta". Pendekatan ini sengaja dipilih untuk mematahkan stereotip bahwa tunanetra selalu dipandang sebagai makhluk suci atau malaikat.
Yvonne Milne, kepala RNIB Connect Radio, menilai kolaborasi dengan Hat Trick membuka peluang menjangkau audiens baru sekaligus mendukung penulis tunanetra. "Kami ingin menggunakan komedi sebagai alat untuk meningkatkan pemahaman dan empati terhadap pengalaman tunanetra dan sebagian tunanetra," ujarnya.
Bagi penikmat komedi di Indonesia, kehadiran You've Got Braille bisa menjadi angin segar di tengah dominasi konten video. Format audio—terutama podcast—memungkinkan pendengar untuk lebih fokus pada dialog dan narasi, tanpa terganggu oleh visual. Ini juga mengingatkan bahwa representasi disabilitas di industri hiburan masih perlu diperluas, tidak hanya sebagai objek belas kasihan melainkan sebagai karakter utuh dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Pertanyaan besarnya: akankah kesuksesan You've Got Braille membuka jalan bagi lebih banyak produksi serupa yang mengangkat isu disabilitas dengan cara yang ringan namun bermakna? Atau justru akan tenggelam di antara banjir konten podcast lainnya? Jawabannya mungkin baru terlihat setelah keempat episodenya dirilis.



