Krisis Eksistensi Kriket Putri: Setelah Kekalahan Telak di Lord's, Format Test Mulai Ditinggalkan
Baca dalam 60 detik
- India menghancurkan Inggris dengan selisih 270 run dalam satu-satunya pertandingan Test kriket putri di Lord's, menyoroti kesenjangan persiapan dan minimnya jadwal format panjang.
- Pelatih Inggris Charlotte Edwards mendesak penambahan jumlah Test dan pengembangan kriket red-ball domestik, namun CEO Cricket Australia justru meragukan relevansi format tersebut secara komersial.
- Hanya 10 Test putri dijadwalkan hingga 2029, sementara kriket T20 terus mendominasi pendapatan; Indonesia sebagai negara dengan basis kriket kecil bisa belajar dari dilema ini dalam menentukan prioritas pengembangan.

Kekalahan telak Inggris dari India dalam satu-satunya pertandingan Test kriket putri di Lord's pekan lalu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin buram masa depan format paling klasik dalam olahraga ini. Dengan skor 270 run, India menunjukkan dominasi absolut, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah pertanyaan yang terus bergema: apakah kriket Test putri masih memiliki tempat di tengah deru T20 yang menggiurkan secara finansial?
Pertandingan yang digelar pada 22-25 Juni 2024 itu menjadi Test putri pertama di Lord's setelah 150 tahun ajang serupa untuk pria. Meski mencatat rekor penonton 37.846 orang, momen bersejarah itu terasa seperti sisipan di kalender yang sudah padat oleh T20 World Cup dan The Hundred. Inggris hanya punya waktu dua-tiga hari berlatih dengan bola merah setelah final Piala Dunia, sementara India—yang gagal lolos ke semifinal—memiliki jeda seminggu penuh. Perbedaan persiapan itu terlihat jelas: Inggris tersingkir dengan skor 170 dan 186, dengan rata-rata hanya empat run per dismissal terhadap bola yang mengenai stumps.
Pelatih Inggris Charlotte Edwards, yang juga kapten di era sebelumnya, kembali menyerukan penambahan jumlah Test. "Kami menikmati Test cricket, tapi Anda harus menjalaninya secara konsisten, tidak bisa setiap 18 bulan sekali," ujarnya kepada BBC Test Match Special. Ia menekankan perlunya kriket red-ball di level domestik Tier One agar pemain muda terbiasa dengan format panjang. Namun, seruan itu berbenturan dengan realitas ekonomi: turnamen T20 seperti The Hundred telah menjadi mesin uang bagi kriket putri Inggris sejak 2021, menarik penonton besar selama liburan musim panas.
Kontras dengan Inggris, India justru diuntungkan oleh sistem domestik yang memasukkan kriket red-ball. Meski bintang seperti Smriti Mandhana tidak bermain di turnamen tersebut tahun ini, fondasi itu diyakini akan melahirkan generasi masa depan yang lebih siap. Sementara itu, CEO Cricket Australia Todd Greenberg secara blak-blakan menyatakan bahwa lebih baik fokus pada format yang menghasilkan "most eyeballs, most commercial returns". "Anda akan melihat lebih sedikit negara bermain Test cricket, tapi kualitas dan risikonya akan lebih tinggi," katanya.
Konteks Indonesia: Meski kriket bukan olahraga utama di Tanah Air, dilema yang dihadapi Inggris dan Australia relevan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Dengan basis pemain yang terbatas, Persatuan Cricket Indonesia (PCI) harus memilih antara mengikuti tren T20 yang lebih populer dan mengundang investasi, atau mempertahankan format Test yang membutuhkan infrastruktur dan waktu latihan lebih panjang. Kegagalan Inggris mempersiapkan diri secara optimal bisa menjadi pelajaran berharga: tanpa kompetisi red-ball domestik yang mapan, ambisi bermain Test hanya akan berujung pada kekalahan telak.
Kritik pedas datang dari mantan pemain Inggris Alex Hartley, yang menyesalkan pengumuman ECB tentang pemecatan McCullum yang dilakukan tepat saat Test putri berlangsung. "ECB bilang mereka memperlakukan semuanya sama, tapi butuh 50 tahun bagi kami untuk bermain di sini, dan berita utama langsung teralihkan," ujarnya. ECB sendiri membantah dengan menyebut kampanye T20 World Cup yang "luar biasa" sebagai bukti kekuatan kriket putri.
Ke depan, jadwal Test putri Inggris berikutnya dijadwalkan di Karibia pada April 2025, namun dengan ketimpangan finansial global, bukan tidak mungkin pertandingan itu kembali dibatalkan seperti yang terjadi pada laga Australia vs Hindia Barat. Jika itu terjadi, Inggris tidak akan memegang bola merah lagi hingga Ashes kandang musim panas mendatang. Pertanyaan besarnya: bisakah kriket Test putri bertahan hidup di era di mana uang berbicara lebih keras daripada tradisi?



