Katie Taylor Timbang Badan untuk Terakhir Kalinya: Pertarungan Pamungkas di Croke Park
Baca dalam 60 detik
- Katie Taylor dan Flora Pili resmi memenuhi batas berat ringan-welter di Trinity College, Dublin, Jumat (24/11), menjelang duel undisputed yang menyedot 80.000 penonton.
- Momen emosional mewarnai seremonial terakhir Taylor, yang mengaku tak kuasa menahan haru di hadapan penggemar yang telah mendukungnya sejak Olimpiade 2012.
- Pertarungan Sabtu (25/11) di Croke Park menjadi panggung pamungkas karier Taylor sekaligus ujian terbesar bagi Pili yang belum terkalahkan dalam 12 laga.

Katie Taylor menuntaskan ritual timbang badan profesionalnya untuk yang terakhir kalinya di Trinity College, Dublin, Jumat (24/11), disambut ribuan penggemar yang memadati halaman kampus bersejarah itu. Petinju 40 tahun itu akan menjalani laga pamungkas melawan Flora Pili pada Sabtu (25/11) di Croke Park yang telah ludes terjual habis, dengan seluruh tiket berkapasitas 80.000 kursi telah habis dipesan jauh-jauh hari.
Taylor, yang belum pernah gagal memenuhi batas berat sepanjang 26 pertarungan profesionalnya, tampil dengan bobot di bawah limit 63,5 kilogram. Namun, angka di timbangan hampir tidak relevan dibandingkan dengan atmosfer emosional yang menyelimuti acara tersebut. Sang juara dua kelas tak terbantahkan itu tampak berkaca-kaca saat menyampaikan pidato perpisahan di hadapan para pendukung setianya, termasuk sang ibu, Bridgit, yang setia mendampingi.
Pemandangan di Trinity College, yang didirikan pada 1592 dan baru mengizinkan mahasiswi masuk sejak 1975, menjadi simbol betapa jauh Taylor telah melampaui batasan gender di dunia tinju. "Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini. Saya telah memimpikan momen ini selama bertahun-tahun, dan kini hanya tinggal satu hari lagi untuk mengakhiri karier di venue impian saya, Croke Park," ujar Taylor dengan suara bergetar, disambut sorak sorai ribuan penonton.
Di sisi lain, Flora Pili, petinju asal Prancis berusia 29 tahun yang belum terkalahkan dalam 12 pertarungan, tampil percaya diri meski mengakui ini adalah panggung terbesar dalam kariernya. Pili, yang selama pekan ini bersikap sopan dan penuh pujian untuk Taylor, menyadari bahwa kemenangan atas legenda hidup akan melambungkan namanya ke level tertinggi tinju dunia. Namun, sorot matanya menunjukkan kegugupan yang tak terbendung saat melangkah ke atas timbangan, sebuah pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Pertarungan ini bukan sekadar perebutan sabuk juara dunia undisputed kelas ringan-welter, melainkan juga perayaan atas perjalanan karier Taylor yang telah menginspirasi jutaan orang, terutama di Indonesia yang tengah menggeliat dalam dunia tinju profesional. Bagi penggemar tinju Tanah Air, laga ini menjadi tontonan wajib untuk menyaksikan bagaimana seorang atlet legendaris menutup kariernya dengan penuh martabat, sekaligus pelajaran tentang dedikasi dan kerja keras yang telah mengantarkan Taylor meraih medali emas Olimpiade London 2012 dan Rio 2016.
Taylor, yang dikenal jarang menunjukkan emosi di pekan pertarungan, mengaku terharu dengan dukungan yang ia terima sepanjang kariernya. "Kalian telah membawa saya melewati Olimpiade Rio, Olimpiade London, dan seluruh karier profesional saya. Terima kasih," katanya, seraya menambahkan bahwa ia ingin memberikan penampilan terbaik sebagai bentuk balas budi kepada para penggemar.
Pertarungan yang dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 22.00 BST (atau pukul 05.00 WIB Minggu) ini diprediksi akan berjalan sengit. Taylor, yang dikenal sebagai petarung sejati, menegaskan bahwa ia tidak akan memperlakukan laga terakhirnya dengan setengah hati. "Saya punya penantang tangguh di depan saya, tetapi saya punya reputasi untuk selalu mengambil pertarungan sulit. Mengapa harus berbeda untuk laga terakhir saya?" ujarnya dengan nada penuh tekad.
Bagi Pili, ini adalah kesempatan emas untuk mengukir namanya dalam sejarah tinju dunia. Namun, tekanan tampil di hadapan 80.000 penonton yang mayoritas mendukung Taylor bisa menjadi bumerang. Analis tinju menilai pengalaman Taylor dalam menghadapi tekanan justru menjadi senjata utamanya, sementara Pili harus mampu mengendalikan emosi jika ingin menggagalkan pesta perpisahan sang juara.
Dengan berakhirnya era Taylor, pertanyaan besar yang menggantung adalah siapa yang akan meneruskan tongkat estafet sebagai wajah tinju wanita dunia. Nama-nama seperti Amanda Serrano dan Savannah Marshall telah mengintip, tetapi belum ada yang mampu menandingi pengaruh Taylor di luar ring. Mampukah generasi baru tampil sekuat Taylor, atau justru Pili yang akan menjadi bintang baru setelah Sabtu malam nanti? Hanya waktu yang bisa menjawab.



