Sutradara Eternals Chloe Zhao: Jangan Buru-buru Mengubur Film Komik
Baca dalam 60 detik
- Sang pemenang Oscar menilai industri film terlalu cepat menghakimi genre superhero, meski popularitasnya sedang menurun.
- Zhao menganggap kisah komik setara dengan mitos modern yang mampu membantu penonton memproses emosi dan realitas.
- Pernyataan ini muncul di tengah kelesuan box office film superhero, menimbulkan pertanyaan tentang masa depan genre tersebut di Hollywood.

Sutradara pemenang Oscar, Chloe Zhao, dengan lantang meminta industri perfilman global untuk tidak terburu-buru mengubur genre film komik. Di tengah lesunya animo penonton terhadap film superhero dalam beberapa tahun terakhir, ia menilai genre ini masih menyimpan nilai artistik dan emosional yang layak diperhitungkan. Pernyataan itu ia sampaikan di sela-sela Festival Film Venesia, Jumat (4/9/2026), dalam diskusi yang mengangkat masa depan sinema populer.
Zhao, yang dikenal lewat karya indie seperti Nomadland, justru membela film komik yang kerap dianggap sebagai hiburan kelas dua. Menurutnya, mengabaikan kisah-kisah semacam itu sama saja dengan menutup mata terhadap kebutuhan manusia akan cerita. "Saya merasa penting untuk tidak mencoret sebuah cerita hanya karena kita tidak menganggapnya seni tinggi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa tujuan bercerita adalah menciptakan wadah bagi penonton untuk mengolah apa yang mereka rasakan, dan arketipe dalam komikโseperti halnya mitosโmenjadi medium yang efektif karena bersifat universal.
Pandangan ini muncul dari pengalaman pahitnya menggarap Eternals (2021), film Marvel Cinematic Universe yang dibintangi Gemma Chan, Richard Madden, dan Angelina Jolie. Meski film tersebut gagal memenuhi target box office dan menuai kritik yang biasa-biasa saja, Zhao tetap menganggap proses pembuatannya sebagai mimpi yang menjadi kenyataan. "Bagi kalian yang mencintai anime, kalian pasti paham ini adalah mimpi seorang gadis yang menjadi nyata. Komik adalah padanan manga di dunia Barat," katanya, menggambarkan kecintaannya pada medium tersebut sejak lama.
Kekhawatiran Zhao tentang masa depan film komik bukan tanpa dasar. Data industri menunjukkan penurunan pendapatan yang signifikan untuk judul-judul superhero dalam beberapa tahun terakhir, dengan beberapa film besar bahkan gagal mencapai titik impas. Fenomena ini memicu perdebatan di kalangan eksekutif studio: apakah ini sekadar kelelahan penonton atau pergeseran selera yang permanen? Di tengah ketidakpastian ini, suara Zhao menjadi pengingat bahwa genre ini pernah menjadi tulang punggung industri hiburan global, dan mungkin masih bisa bangkit dengan pendekatan yang lebih segar dan beragam.
Di tengah kesuksesannya, Zhao juga mengakui adanya krisis personal yang ia alami. Hidupnya yang dipenuhi layar membuatnya bertanya-tanya, "Apakah saya melewatkan kehidupan karena selalu berusaha menangkapnya?" Ia juga membahas dilema antara karier dan kehidupan pribadi, termasuk keinginannya memiliki anak yang belum kesampaian. Pernyataan jujurnya ini menambah dimensi manusiawi pada sosok sutradara yang selama ini dikenal perfeksionis.
Bagi penonton Indonesia, pernyataan Zhao membuka ruang refleksi tentang bagaimana kita mengonsumsi film. Pasar Indonesia sendiri menunjukkan tren positif untuk film superhero, dengan beberapa judul MCU masuk jajaran film terlaris di bioskop tanah air. Namun, pertanyaan tentang keberlanjutan genre ini tetap relevan, terutama dengan menjamurnya platform streaming yang menawarkan alternatif tontonan. Apakah penonton Indonesia akan tetap setia pada superhero, atau mulai beralih ke cerita-cerita lokal yang lebih dekat dengan keseharian? Jawabannya mungkin akan menentukan arah industri film ke depan, tidak hanya di Hollywood, tetapi juga di negeri ini.



