Bazball Runtuh: McCullum Dipecat, Inggris Kembali ke Titik Nol
Baca dalam 60 detik
- Brendon McCullum resmi dipecat sebagai pelatih tim tes Inggris setelah rentetan hasil buruk, termasuk kekalahan Ashes 4-1.
- Filosofi Bazball yang sempat membawa euforia gagal membangun generasi baru, dengan rekor 19 kekalahan dalam 38 pertandingan.
- Inggris kini mencari pelatih dan kapten baru dalam waktu singkat, dengan hanya 10 pertandingan tersisa sebelum Ashes 2025.

Brendon McCullum harus meninggalkan kursi pelatih tim tes Inggris setelah serangkaian kegagalan yang berpuncak pada kekalahan memalukan dari Australia di Ashes 2023. Keputusan ini diumumkan pada Minggu (21/7) setelah sebelumnya kapten Ben Stokes pensiun, membuat skuad berjuluk 'Three Lions' kembali ke posisi tanpa nahkoda seperti empat tahun lalu.
Momen keruntuhan dimulai pada November tahun lalu di Perth. Inggris sebenarnya berada dalam posisi kuat untuk memenangkan Tes pertama melawan Australia, namun justru mengalami keruntuhan batting yang mencatatkan sembilan wicket hanya dalam 99 run. Kolaps ini disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah kriket Inggris, dan dampaknya masih terasa hingga tujuh bulan kemudian.
McCullum diangkat pada 2022 dengan misi membangkitkan tim yang hanya meraih satu kemenangan dalam 17 pertandingan. Filsafat 'Bazball' yang agresif berhasil membawa kemenangan spektakuler melawan Selandia Baru, India, dan Pakistan di tahun pertamanya. Namun, ketika harus membangun generasi baru, pendekatan yang mengandalkan manajemen manusia tanpa sentuhan teknis terbukti tidak efektif.
Direktur Kriket Rob Key, yang selamat dari pembersihan, kini bertugas mencari pelatih baru. Nama Andy Flower muncul sebagai kandidat utama, mengingat suksesnya membawa Inggris juara dunia dan memenangkan Ashes di Australia. Flower kini menjadi pelatih paling sukses di sirkuit franchise, dan Inggris mungkin harus memberikan fleksibilitas baginya untuk tetap bekerja di IPL dan The Hundred.
Alternatif lain termasuk Jonathan Trott, Richard Dawson, dan bahkan pelatih asal Australia seperti Justin Langer atau Darren Lehmann. Namun, tantangan terbesar adalah pelatih baru harus bekerja berdampingan dengan McCullum yang masih menangani tim white-ball. Model kepelatihan terpisah ini jarang berhasil di Inggris, dan biasanya satu tim akan diutamakan.
Kapten baru juga harus segera ditunjuk. Harry Brook menjadi kandidat kuat, namun ia memiliki hubungan erat dengan McCullum di tim white-ball. Ada kemungkinan pelatih tes baru memilih kapten berbeda, seperti Joe Root yang pernah bekerja dengan Flower, atau Jacob Bethell yang juga dilatih Flower di RCB.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran tentang pentingnya keseimbangan antara inovasi dan fundamental. Tim kriket nasional yang sedang berkembang dapat belajar dari kegagalan Inggris yang terlalu bergantung pada satu filosofi tanpa adaptasi. Ke depan, Inggris harus segera membangun kembali fondasi teknis dan mental tim jika ingin bersaing di Ashes 2025.



