Saham JELI Terjun Bebas Hanya Lima Hari Setelah IPO, Sentuh Batas Bawah
Baca dalam 60 detik
- Harga saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) ambles 14,72% pada hari kelima perdagangan, menyentuh level ARB Rp1.275.
- Antrean jual membeludak hingga 353.929 lot tanpa satu pun antrean beli, menandakan tekanan jual yang ekstrem.
- Fenomena ini mengingatkan investor ritel akan risiko IPO dengan valuasi tinggi dan likuiditas terbatas di pasar sekunder.

Hanya dalam lima hari sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) – pemilik merek permen INACO JELY – mengalami kejatuhan harga yang dramatis. Pada perdagangan Senin (13/7/2026), saham JELI menyentuh batas bawah harga alias auto rejection bawah (ARB) di level Rp1.275 per saham, anjlok 14,72% dari harga penutupan sebelumnya.
Volume transaksi tercatat mencapai 19,25 juta lembar dengan frekuensi 5.220 kali dan nilai Rp13,08 miliar. Namun yang paling mencolok adalah antrean jual yang menggunung: hingga pukul 10.00 WIB, terdapat 353.929 lot antrian jual, sementara tidak ada satu pun lot antrian beli. Kondisi ini mencerminkan tekanan jual yang sangat besar dan minimnya minat beli dari investor.
JELI resmi tercatat di BEI pada 8 Juli 2026 dengan harga penawaran umum perdana (IPO) Rp900 per saham. Dalam IPO tersebut, perseroan melepas 266 juta saham baru atau setara 21,01% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan harga IPO yang relatif rendah, saham JELI sempat melesat pada hari pertama, namun kemudian berbalik arah dan terus merosot hingga menyentuh ARB.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi investor ritel di Indonesia bahwa IPO bukanlah jaminan keuntungan instan. Dalam banyak kasus, saham IPO yang mengalami lonjakan harga pada hari pertama seringkali diikuti oleh aksi ambil untung (profit taking) yang masif, terutama jika fundamental perusahaan belum solid atau likuiditas pasar terbatas. Analis pasar menilai bahwa antrean jual yang membeludak tanpa adanya pembeli menunjukkan bahwa para investor awal lebih memilih keluar dari posisi ketimbang menahan saham.
Konteks Indonesia: Pasar modal Tanah Air belakangan menyaksikan beberapa IPO yang mengalami nasib serupa, terutama dari emiten dengan kapitalisasi kecil atau yang bergerak di sektor konsumen. Investor ritel kerap tergiur dengan cerita pertumbuhan bisnis, namun lalai memperhatikan valuasi yang sudah terlalu tinggi saat IPO. Dalam kasus JELI, harga saham sempat melambung hingga dua kali lipat dari harga IPO sebelum akhirnya jatuh bebas. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kewajaran harga penawaran dan peran underwriter dalam menjaga stabilitas harga di pasar sekunder.
Ke depan, pergerakan saham JELI akan bergantung pada kemampuan emiten dalam membuktikan kinerja bisnisnya. Apakah tekanan jual ini hanya sementara atau merupakan awal dari tren penurunan yang lebih panjang? Investor disarankan untuk mencermati laporan keuangan dan prospek usaha perseroan sebelum mengambil keputusan. Satu hal yang pasti: euforia IPO seringkali berakhir dengan kenyataan pahit bagi mereka yang terlambat masuk.



