Diancam Bom di Hari Pertama MPLS, Mendikdasmen Turun Langsung ke SD Jagakarsa
Baca dalam 60 detik
- Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengunjungi SDN Srengseng Sawah 15 Pagi sehari setelah sekolah itu diteror ancaman bom palsu pada MPLS.
- Pelaku berinisial MY (34) telah ditangkap; motif sementara adalah iseng dan kekecewaan pribadi, bukan sasaran sekolah.
- Kunjungan menteri bertujuan memulihkan semangat belajar siswa dan menegaskan pentingnya lingkungan sekolah yang aman.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyambangi SDN Srengseng Sawah 15 Pagi di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (14/7), hanya sehari setelah sekolah tersebut menjadi sasaran ancaman bom palsu yang memaksa evakuasi guru dan murid pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Kunjungan mendadak ini bukan sekadar seremoni. Mu'ti bergabung dalam kegiatan senam pagi, memberikan motivasi, dan menyampaikan tiga pesan inti kepada para siswa: semangat belajar lebih penting dari sekadar nilai rapor, pentingnya memiliki cita-cita, serta pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. "Nilai rapotnya apa saja tidak terlalu penting. Yang penting kalian semuanya semangat untuk belajar," ujarnya di hadapan siswa.
Suasana yang sempat mencekam pada Senin (13/7) berubah menjadi ceria. Mu'ti bahkan memanggil beberapa siswa ke panggung untuk menanyakan cita-cita merekaโOlivia ingin jadi dokter, Ray bercita-cita menjadi astronot, dan Yusuf bercita-cita menjadi polisi. Momen ini sengaja dirancang untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari trauma teror dan mengembalikan rasa aman di lingkungan sekolah.
Di balik keceriaan itu, polisi masih mendalami kasus ancaman bom yang dikirim melalui pesan WhatsApp. Pelaku berinisial MY (34) telah diamankan. Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengungkapkan bahwa MY sebelumnya juga pernah mengirim pesan serupa ke ketua RT-nya. "Kejadiannya sudah lama, baru terungkap setelah kami lakukan pengamanan pasca yang bersangkutan mengirimkan teror ancaman bom ke sekolah," jelas Iman.
Motif pelaku yang disebut "iseng" dan adanya unsur kekecewaan pribadi menjadi perhatian tersendiri. Polisi masih mendalami apakah ada faktor lain yang mendorong aksi tersebut. Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi memastikan situasi sekolah telah aman dan kegiatan MPLS bisa dilanjutkan. "Semua sudah menyatakan aman baik dari Gegana, Densus 88, dan anjing pelacak," tegasnya.
Kunjungan Mendikdasmen ini juga menjadi ajang untuk mengapresiasi sinergi antara Polri, dinas pendidikan, guru, dan orang tua dalam menjaga keamanan sekolah. Polri turut memberikan edukasi tentang sekolah aman dan bermain bersama siswa. Langkah ini dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap keamanan lingkungan pendidikan, terutama di masa transisi tahun ajaran baru.
Ke depan, kasus ini membuka pertanyaan besar: seberapa serius pemerintah dan aparat menangani ancaman teror di sekolah, meski hanya berupa hoaks? Dengan motif yang terkesan remeh, dampak psikologis terhadap anak-anak dan orang tua bisa jauh lebih besar. Apakah regulasi tentang keamanan sekolah akan diperketat, ataukah ini akan menjadi catatan merah yang cepat dilupakan?



