Tikus Daun Andes: Mamalia Paling Tangguh yang Hidup di Puncak Gunung Beracun
Baca dalam 60 detik
- Tikus daun Andes (Phyllotis vaccarum) terbukti mampu bertahan di ketinggian 6.739 meter dengan oksigen 44% dari permukaan laut, sekaligus menghadapi racun tanah vulkanik.
- Studi di jurnal Science mengungkap adaptasi unik: efisiensi pembakaran lemak, modifikasi enzim darah, dan kemampuan detoksifikasi racun makanan yang terkait genetik.
- Temuan ini membuka wawasan baru tentang batas toleransi mamalia terhadap ekstrem lingkungan, relevan untuk riset adaptasi manusia di ketinggian atau lingkungan tercemar.

Di puncak gunung berapi Llullaillaco, perbatasan Argentina dan Chili, seekor tikus kecil bernama tikus daun Andes (Phyllotis vaccarum) membuktikan bahwa kehidupan mampu bertahan di tempat yang paling tidak ramah sekalipun. Pada ketinggian 6.739 meter, dengan tekanan udara hanya 45 kilopascal—setara 44 persen oksigen di permukaan laut—dan tanah vulkanik yang sarat arsenik serta tumbuhan beracun, mamalia ini tidak sekadar singgah, melainkan menetap dan berkembang biak. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Science pada 9 Juli 2026 mengungkap mekanisme adaptasi yang membuat spesies ini layak menyandang gelar mamalia dengan sebaran ketinggian terluas di dunia, dari pantai hingga puncak Andes.
Penelitian yang dipimpin Schuyler Liphardt dari University of Nebraska-Lincoln ini menggabungkan eksperimen fisiologis dan analisis genom untuk membedah kehebatan tikus daun Andes. Sebelumnya, para ilmuwan meyakini bahwa ketinggian semacam itu berada di luar batas toleransi mamalia. Bahkan pendaki manusia yang terlatih hanya mampu bertahan beberapa jam di kondisi oksigen serendah itu, bukan untuk hidup permanen. Namun, tikus ini justru menjadikan puncak gunung berapi sebagai rumah, menghadapi dua tantangan sekaligus: hipoksia ekstrem dan racun lingkungan.
Tim peneliti menguji tikus dari populasi dataran tinggi dan dataran rendah dalam ruang simulasi yang meniru ketinggian 4.300 meter dan 7.000 meter. Hasilnya, tikus dataran tinggi mampu mempertahankan kapasitas termogenik—kemampuan menghasilkan panas tubuh—jauh lebih baik ketimbang tikus dataran rendah dari spesies yang sama maupun spesies kerabatnya, Phyllotis darwini. Rahasianya terletak pada mitokondria otot betis yang memiliki kapasitas respirasi lebih tinggi, memungkinkan pembakaran lemak secara efisien untuk menghasilkan energi panas. Tidak seperti kebanyakan hewan dataran tinggi yang memodifikasi hemoglobin, tikus daun Andes justru menurunkan aktivitas enzim karbonik anhidrase dalam sel darah merah, sebuah strategi untuk menjaga keseimbangan asam-basa saat laju pernapasan meningkat di ketinggian.
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah bukti seleksi genetik pada gen yang bertanggung jawab atas detoksifikasi racun makanan, dan seleksi ini ditemukan baik pada populasi dataran tinggi maupun dataran rendah. Di kawasan Puna de Atacama, tanah vulkanik mengandung arsenik alami yang tinggi, sementara tumbuhan lokal kaya akan senyawa pertahanan beracun. Analisis genom menunjukkan bahwa gen dari famili glutathione S-transferase—enzim kunci dalam detoksifikasi hati—mengalami pola seleksi berbeda antara kedua populasi, kemungkinan sebagai respons terhadap jenis racun yang dominan di masing-masing lingkungan. Peneliti menduga bahwa kemampuan mendetoksifikasi racun ini mungkin terkait erat dengan adaptasi terhadap hipoksia, karena jalur sinyal yang mengatur kedua proses tersebut saling terhubung dalam tubuh.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki resonansi tersendiri. Negara kepulauan dengan gunung berapi aktif dan lahan pertanian yang kerap terpapar logam berat seperti arsenik dapat memanfaatkan pengetahuan tentang mekanisme detoksifikasi alami untuk mengembangkan strategi bioremediasi atau bahkan terapi bagi populasi yang tinggal di daerah dengan kontaminasi tinggi. Selain itu, riset tentang adaptasi ekstrem ini membuka peluang bagi ilmuwan Indonesia untuk mengeksplorasi fauna endemik di pegunungan tinggi seperti Jayawijaya atau Rinjani, yang mungkin menyimpan rahasia adaptasi serupa.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah mekanisme adaptasi tikus daun Andes dapat direkayasa pada mamalia lain, termasuk manusia, untuk bertahan di lingkungan ekstrem—baik di Bumi maupun di luar angkasa. Studi ini tidak hanya memperluas batas pengetahuan tentang kehidupan, tetapi juga mengingatkan bahwa di sudut-sudut planet yang paling keras sekalipun, evolusi selalu menemukan jalannya.



