Monumen Haiku Mantan Presiden Pertama EU Resmi Berdiri di Jepang: Simbol Persahabatan Lintas Samudra
Baca dalam 60 detik
- Monumen haiku Herman Van Rompuy, mantan presiden pertama Uni Eropa, diresmikan di Kuil Chosyuzi, Chiba, Jepang—menjadi monumen pertama di Negeri Sakura yang didedikasikan untuk penyair haiku asing.
- Puisi tersebut terinspirasi oleh penyelamatan awak kapal Spanyol San Francisco pada 1609 oleh nelayan lokal, mencerminkan solidaritas lintas budaya yang kini diabadikan dalam batu setinggi 130 cm.
- Peresmian yang dihadiri puluhan pegiat haiku internasional ini menegaskan peran haiku sebagai jembatan diplomasi budaya, relevan bagi Indonesia yang juga aktif dalam pertukaran sastra global.

Monumen bertuliskan haiku karya Herman Van Rompuy—Presiden pertama Uni Eropa sekaligus mantan Perdana Menteri Belgia—resmi berdiri di kompleks Kuil Chosyuzi, Katsuura, Prefektur Chiba, Jepang. Monumen ini menjadi yang pertama di Jepang yang secara khusus menghormati penyair haiku asing, menandai babak baru dalam hubungan budaya Jepang-Eropa.
Van Rompuy, 78 tahun, telah menerbitkan tiga kumpulan haiku dan dikenal aktif mempromosikan perdamaian dunia melalui puisi pendek bergaya Jepang itu. Haiku yang diukir di monumen berbunyi: "two shores of the Pacific / joined by generosity / ocean of peace"—atau dalam versi Jepang: "kanyo no / tsunagu hamabe ya / heiwa no umi". Sajak ini diciptakan pada Juli 2022 saat Van Rompuy pertama kali mengunjungi Onjuku, kota pesisir di Chiba.
Puisi tersebut merujuk pada peristiwa bersejarah tahun 1609, ketika kapal Spanyol San Francisco yang berlayar dari Filipina menuju Meksiko kandas akibat badai di perairan Iwawada, Onjuku. Nelayan lokal dan penyelam "ama" segera bertindak, menyelamatkan 317 awak kapal yang terombang-ambing di laut. Bagi Van Rompuy, kisah heroik itu menyimbolkan kedermawanan dan solidaritas manusia yang melampaui batas negara. "Saya sangat tersentuh. Saya menuangkannya sebagai persahabatan yang melintasi Pasifik," ujarnya dalam seremoni peresmian.
Pemilihan Kuil Chosyuzi sebagai lokasi monumen bukan tanpa alasan. Dari halaman kuil yang menghadap Samudra Pasifik, pengunjung dapat melihat area dekat Iwawada tempat kapal San Francisco kandas. Van Rompuy sendiri pernah mengikuti pertemuan haiku Wakanakai di kuil tersebut pada 2022, memperkuat ikatan personal dengan tempat itu.
Peresmian dihadiri sekitar 50 orang, termasuk Presiden Asosiasi Haiku Internasional Takashi Hoshino, mantan duta besar Swedia untuk Jepang dan Presiden Masyarakat Haiku Swedia Lars Vargo, serta para pegiat haiku lainnya. Dalam sambutannya, Van Rompuy menekankan kekuatan haiku sebagai alat pemersatu. "Haiku memiliki kekuatan untuk menghubungkan manusia. Itulah sebabnya saya terus menulisnya. Merupakan kehormatan besar bahwa monumen haiku saya berdiri di Jepang, tanah air haiku," katanya.
Bagi Indonesia, keberadaan monumen ini menjadi pengingat akan pentingnya diplomasi budaya dalam hubungan internasional. Indonesia, yang memiliki tradisi sastra lisan dan puisi seperti pantun, dapat mengambil pelajaran dari upaya Van Rompuy dalam memanfaatkan haiku sebagai jembatan antarbangsa. Di tengah ketegangan geopolitik global, inisiatif semacam ini menawarkan alternatif soft power yang humanis dan berkelanjutan. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengadopsi pendekatan serupa untuk memperkuat citra positif di mata dunia?



