Kebakaran Maut di Bar Bangkok: 30 Tewas, Puluhan Kritis dalam Insiden Terburuk dalam 17 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di bar musik Rong Beer Na Ladprao, Bangkok, menewaskan 30 orang dan melukai lebih dari 70 lainnya, dengan 24 dalam kondisi kritis.
- Korban jiwa terbanyak ditemukan di toilet tanpa jendela, memicu pertanyaan tentang kepatuhan terhadap standar keselamatan kebakaran di tempat hiburan malam.
- Insiden ini menjadi yang paling mematikan di Bangkok dalam 17 tahun terakhir, menyoroti risiko serupa di klub-klub padat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kebakaran hebat yang melanda sebuah bar musik di Bangkok pada Minggu malam (14/7) telah merenggut 30 jiwa, menjadikannya tragedi terburuk di ibu kota Thailand dalam hampir dua dekade. Otoritas setempat mengonfirmasi pada Selasa bahwa jumlah korban tewas terus bertambah seiring upaya pencarian dan identifikasi korban.
Lebih dari 70 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, dengan 24 di antaranya berada dalam kondisi kritis. Kebakaran terjadi di kawasan Ladprao, Bangkok utara, dan membutuhkan waktu setengah jam bagi petugas pemadam untuk mengendalikan api. Bar bernama Rong Beer Na Ladprao itu mengklaim mampu menampung hingga 600 pengunjung, meskipun jumlah pasti orang yang berada di dalam saat kejadian belum diketahui.
Polisi melaporkan bahwa sebagian besar korban tewas ditemukan terperangkap di toilet yang tidak memiliki jendela, diduga mereka berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api. Temuan ini langsung memicu investigasi menyeluruh terkait penyebab kebakaran dan kepatuhan bar terhadap regulasi keselamatan. Puing-puing berserakan di sekitar lokasi, termasuk alat musik yang meleleh dan kursi hangus, menjadi saksi bisu keganasan api.
Konteks Indonesia: Tragedi ini menjadi pengingat akan rentannya tempat hiburan malam di Asia Tenggara terhadap kebakaran. Di Indonesia, sejumlah insiden serupa pernah terjadi, seperti kebakaran diskotek di Surabaya pada 2015 yang menewaskan puluhan orang. Minimnya penerapan standar keselamatan kebakaran, seperti pintu darurat yang memadai dan sistem sprinkler, kerap menjadi celah fatal. Otoritas Indonesia diharapkan dapat memperketat pengawasan terhadap tempat-tempat serupa untuk mencegah tragedi serupa.
Para pelayat terus berdatangan ke lokasi kejadian pada Selasa, meninggalkan karangan bunga dan pesan duka dalam berbagai bahasa, termasuk Thailand dan Korea. Suasana haru menyelimuti area yang dipagari pembatas, dengan tumpukan bunga semakin meninggi. Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran, termasuk kemungkinan korsleting listrik atau kelalaian prosedur.
Ke depan, tragedi ini mendorong pertanyaan mendasar: sejauh mana keseriusan otoritas Thailand dalam menegakkan regulasi keselamatan di tempat hiburan? Akankah insiden ini menjadi momentum reformasi, atau hanya akan menjadi catatan kelam lain yang terlupakan seiring waktu?



