Shein Resmi Melenggang ke Sidang IPO Hong Kong, Target Valuasi Rp 640 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Shein akan menjalani sidang pendengaran di Bursa Efek Hong Kong pada Kamis ini, langkah krusial menuju pencatatan saham yang telah lama ditunggu.
- Setelah mendapat restu dari regulator China, perusahaan fesyen cepat ini membidik valuasi antara 40 hingga 50 miliar dolar AS pada kuartal ketiga tahun ini.
- IPO Shein menjadi ujian bagi pasar modal Hong Kong yang lesu, sekaligus membuka peluang bagi investor Indonesia untuk terpapar raksasa e-commerce global.

Shein, raksasa fesyen cepat asal China, dijadwalkan menjalani sidang pendengaran (hearing) di Bursa Efek Hong Kong pada Kamis ini, menandai babak baru dalam perjalanan panjangnya menuju pencatatan saham publik. Dua sumber yang mengetahui langsung proses tersebut mengonfirmasi agenda ini, yang menjadi salah satu tahapan paling krusial sebelum perusahaan resmi melantai di bursa.
Langkah ini dimungkinkan setelah Shein pada Jumat lalu memperoleh persetujuan dari regulator sekuritas China, China Securities Regulatory Commission (CSRC). Izin tersebut menjadi penghalang utama yang akhirnya tersingkir setelah perusahaan menunggu hampir setahun sejak mengajukan aplikasi secara rahasia pada Juli tahun lalu. Dengan restu Beijing, Shein kini dapat melanjutkan proses penawaran umum perdana (IPO) di Hong Kong, sebuah destinasi yang dipilih setelah rencana IPO di New York kandas akibat ketegangan geopolitik.
Dalam sidang nanti, Shein harus menjawab berbagai pertanyaan dari anggota komite pencatatan saham bursa. Jika lolos, perusahaan yang didirikan oleh Sky Xu pada 2012 ini akan memasuki tahap roadshow investor dan pembentukan buku pesanan (bookbuilding). Menurut salah satu sumber, target jadwal pencatatan adalah September atau Oktober mendatang, dengan valuasi yang diincar mencapai 40 hingga 50 miliar dolar AS, setara sekitar Rp 640 triliun hingga Rp 800 triliun.
Bagi pasar modal Hong Kong, IPO Shein menjadi angin segar di tengah lesunya aktivitas pencatatan saham dalam dua tahun terakhir. Sejumlah perusahaan besar memilih menunda atau membatalkan rencana IPO karena ketidakpastian ekonomi dan regulasi. Kehadiran Shein diharapkan dapat memulihkan kepercayaan investor dan menunjukkan bahwa Hong Kong masih menjadi destinasi utama bagi perusahaan teknologi global.
Dari sisi bisnis, Shein dikenal dengan model fesyen cepat yang mengandalkan rantai pasok ultra-efisien dan harga sangat kompetitif. Perusahaan ini telah menjadi fenomena di kalangan konsumen muda di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana aplikasi Shein kerap masuk dalam jajaran unduhan teratas. Namun, model bisnis ini juga menuai kritik terkait isu keberlanjutan dan praktik ketenagakerjaan, yang kerap menjadi sorotan di pasar Eropa dan Amerika Serikat.
Bagi Indonesia, IPO Shein membuka peluang bagi investor ritel dan institusi untuk memiliki eksposur terhadap salah satu pemain e-commerce global terbesar. Meski demikian, investor perlu mencermati risiko regulasi dan volatilitas valuasi yang mungkin terjadi. Analis memperkirakan bahwa valuasi akhir Shein bisa lebih rendah dari target awal, mengingat kondisi pasar yang masih rapuh dan tekanan dari regulator di berbagai negara.
Ke depan, keberhasilan IPO Shein akan menjadi indikator penting bagi sentimen pasar terhadap perusahaan teknologi China yang berekspansi global. Jika proses berjalan mulus, bukan tidak mungkin akan diikuti oleh perusahaan rintisan lain yang juga mengincar pencatatan di Hong Kong. Pertanyaannya, mampukah Shein mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah persaingan ketat dan tuntutan transparansi yang semakin tinggi?



