Eropa Siapkan Uang Digital: Euro Elektronik Mulai Diuji pada 2025
Baca dalam 60 detik
- Uni Eropa menargetkan aturan final untuk digital euro pada akhir 2024, membuka jalan bagi ECB untuk meluncurkan mata uang digital bank sentral pertama di kawasan itu.
- Digital euro akan menjadi klaim langsung terhadap ECB, berbeda dengan uang digital saat ini yang merupakan klaim terhadap bank komersial, guna memperkuat kedaulatan moneter Eropa.
- Pilot phase melibatkan 40 bank dan perusahaan pembayaran mulai tahun depan, dengan peluncuran penuh diperkirakan pada 2029, berpotensi mengubah lanskap pembayaran ritel global.

Negosiasi trilateral antara Parlemen Eropa, pemerintah negara anggota, dan Komisi Eropa mengenai kerangka hukum digital euro dimulai pada Senin (13/7), tiga tahun setelah rancangan undang-undang pertama kali diajukan. Targetnya, regulasi final rampung pada akhir tahun ini, memberi mandat kepada Bank Sentral Eropa (ECB) untuk secara resmi menyetujui peluncuran digital euro pada 1 Januari 2027 โ tepat seperempat abad setelah uang kertas dan koin euro beredar.
Digital euro merupakan versi elektronik dari uang tunai yang diterbitkan langsung oleh ECB, menjadikannya satu-satunya bentuk uang bank sentral yang dapat diakses publik dalam format digital. ECB berkomitmen mempertahankan peredaran uang fisik tanpa batas waktu, namun penggunaan uang tunai terus menurun. Di sisi lain, popularitas mata uang kripto, termasuk stablecoin yang dipatok pada dolar AS, meningkat pesat. ECB menilai uang bank sentral berfungsi sebagai jangkar kepercayaan sistem keuangan. Digital euro akan menjadi klaim langsung terhadap ECB, berbeda dengan uang digital saat ini yang pada akhirnya merupakan klain terhadap bank komersial.
Pendukung digital euro berargumen bahwa inisiatif ini akan mengurangi ketergantungan zona euro pada perusahaan pembayaran AS seperti Visa, Mastercard, dan PayPal. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi kedaulatan moneter blok tersebut di tengah ekonomi yang semakin digital. ECB juga memperingatkan bahwa stablecoin dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan dan kebijakan moneter karena berpotensi menarik simpanan dari bank dan tidak selalu mempertahankan nilai yang stabil.
Konsumen dapat menggunakan digital euro tanpa biaya melalui aplikasi khusus atau aplikasi perbankan mobile. Bagi yang tidak memiliki ponsel pintar, tersedia kartu pembayaran. Pedagang secara umum wajib menerima digital euro karena status alat pembayaran yang sah (legal tender), dengan biaya yang dapat dibebankan bank kepada merchant dibatasi oleh undang-undang. Namun, bank berpendapat mereka harus mendapat kompensasi atas biaya peningkatan sistem untuk menangani pembayaran digital euro. ECB saat ini bekerja sama dengan spesialis pembayaran untuk membangun infrastruktur dan standar pembayaran, dan tidak seperti Visa atau Mastercard, berencana menyediakannya secara gratis kepada bank.
Regulasi akan menetapkan batas jumlah digital euro yang dapat dimiliki individu, sebagai pengaman untuk mencegah penarikan besar-besaran dari rekening bank. Angka โฌ3.000 per orang telah dibahas. Pengguna dapat mengisi kembali kepemilikan setelah membelanjakan sebagian, namun hal ini menimbulkan kekhawatiran bank tentang perpindahan simpanan secara bertahap dari sistem perbankan tradisional. Untuk mengatasi hal tersebut, kepemilikan digital euro tidak akan berbunga. ECB menyatakan tidak dapat melihat detail pembayaran pengguna. Untuk pembayaran melalui aplikasi perbankan, bank komersial dapat melihat data transaksi seperti halnya pembayaran digital saat ini. Digital euro juga memiliki mode offline, memungkinkan pembayaran tanpa koneksi internet; dalam kasus tersebut, detail transaksi tidak dicatat, hanya perubahan saldo yang terlihat.
Bagi Indonesia, perkembangan digital euro menjadi preseden penting bagi bank sentral di kawasan, termasuk Bank Indonesia yang tengah mengembangkan Rupiah Digital. Keberhasilan Eropa dalam mengatur batas kepemilikan, perlindungan privasi, dan mekanisme offline dapat menjadi referensi dalam merancang CBDC (Central Bank Digital Currency) yang sesuai dengan karakteristik Indonesia, terutama untuk inklusi keuangan di daerah terpencil. Namun, dominasi perusahaan pembayaran AS di Indonesia juga patut dicermati; digital euro bisa menjadi model alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada infrastruktur asing.
Ke depan, uji coba yang melibatkan 40 bank dan perusahaan pembayaran mulai tahun depan akan menjadi batu ujian bagi kelayakan teknis dan penerimaan pasar. Pertanyaan besarnya: akankah digital euro mampu bersaing dengan stablecoin dan sistem pembayaran swasta tanpa mengorbankan stabilitas sistem perbankan? Jawabannya akan menentukan arah masa depan uang digital tidak hanya di Eropa, tetapi juga secara global.



