Argentina Vs Inggris di Semifinal Piala Dunia: Scaloni Meredam Narasi Rivalitas
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Argentina Lionel Scaloni menegaskan laga semifinal Piala Dunia melawan Inggris hanyalah pertandingan sepak bola biasa, bukan ajang balas dendam sejarah.
- Rivalitas kedua negara dipenuhi kenangan pahit, mulai dari Perang Falklands 1982 hingga kontroversi 'Tangan Tuhan' Maradona, namun tim Albiceleste memilih fokus pada target juara.
- Pertemuan ini menjadi ujian mental bagi Argentina yang ingin mempertahankan gelar, sekaligus menguji kemampuan mereka memisahkan politik dari olahraga.

Pelatih timnas Argentina, Lionel Scaloni, dengan tegas menepis anggapan bahwa laga semifinal Piala Dunia melawan Inggris sarat muatan politik atau sejarah kelam. Menurutnya, pertandingan yang akan digelar di Atlanta, Rabu (12/7) waktu setempat, murni soal sepak bolaโbukan ajang melampiaskan dendam masa lalu.
"Ini pertandingan sepak bola. Titik. Tidak ada yang lebih dari itu," ujar Scaloni kepada awak media usai timnya menyingkirkan Swiss dengan skor 3-1 melalui babak perpanjangan waktu. Sikap ini sengaja ditunjukkan untuk meredam narasi rivalitas yang kerap membayangi duel Argentina vs Inggris, terutama di panggung Piala Dunia.
Sejarah mencatat, kedua tim telah saling berhadapan dalam sejumlah momen ikonik. Inggris mengalahkan Argentina di Piala Dunia 1966, disusul Perang Falklands (Malvinas) tahun 1982 yang menewaskan ratusan personel militer dari kedua sisi. Puncaknya, gol kontroversial Diego Maradona yang dikenal sebagai "Tangan Tuhan" pada perempat final 1986 menjadi luka yang tak mudah sembuh. Duel berikutnya di 1998 dan 2002 juga menyisakan cerita pahit bagi Argentina, terutama saat David Beckham memastikan kemenangan Inggris di fase grup 2002 yang membuat Argentina tersingkir lebih awal.
Namun, Scaloni bersikeras bahwa masa lalu tak boleh mengganggu konsentrasi timnya. "Kami akan menghadapi tim nasional hebat dengan pelatih yang saya kagumi. Tidak perlu mencari-cari makna lain," katanya merujuk pada pelatih Inggris yang juga koleganya. Sikap ini diamini oleh penyerang Argentina, Jose Manuel Lopez. Ia mengakui ada beban historis di luar lapangan, tetapi para pemain profesional akan tetap fokus pada pertandingan. "Ini semifinal Piala Dunia, mimpi semua pemain sejak kecil. Motivasi sudah cukup tanpa perlu mengungkit masa lalu," ujarnya.
Bagi publik Indonesia, rivalitas Argentina vs Inggris mungkin tak serumit di Amerika Selatan atau Eropa. Namun, pertandingan ini tetap menarik karena mempertemukan dua kekuatan besar sepak bola dunia. Argentina datang dengan skuad bertabur bintang yang dipimpin Lionel Messi, sementara Inggris mengandalkan kolektivitas dan pemain muda berbakat. Laga ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Scaloni yang ingin mempertahankan gelar juaraโprestasi yang belum pernah dicapai Argentina sejak 1962.
"Kami profesional. Kami akan bermain seperti biasa, sampai detik terakhir, seperti yang kami tunjukkan malam ini," kata Lopez.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Argentina memisahkan emosi sejarah dari ambisi olahraga? Atau justru tekanan eksternal yang akan menentukan hasil akhir? Satu hal pasti, duel di Atlanta akan menjadi babak baru dalam rivalitas panjang dua negara yang tak hanya bertaruh tiket final, tetapi juga harga diri.



