Tuchel Pusingkan Taktik, Inggris Terus Menang: Antara Keberuntungan dan Mentalitas Juara
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Thomas Tuchel mengkritik performa Inggris meski menang atas Norwegia di perempat final Piala Dunia, menyoroti banyaknya kesalahan teknis dan kurangnya pengulangan pola serangan.
- Kemenangan Inggris lebih banyak ditentukan oleh momen transisi dan kualitas individu pemain seperti Jude Bellingham, bukan dari skema taktik yang diinginkan Tuchel.
- Menghadapi Argentina di semifinal, Tuchel akan terus memaksakan rotasi segitiga sayap, namun efektivitasnya masih diragukan karena inkonsistensi eksekusi.

Thomas Tuchel, pelatih timnas Inggris, kembali dibuat gelisah meski timnya melaju ke semifinal Piala Dunia. Kemenangan 2-1 atas Norwegia pada babak perempat final, Sabtu (15/7), justru memicu kritik pedas dari pelatih asal Jerman itu. "Kami mempersulit diri sendiri. Hasilnya fantastis, tapi saya tidak senang dengan performa," ujarnya usai pertandingan. Pertanyaan besar pun muncul: jika permainan belum sesuai harapan, mengapa Inggris terus menuai kemenangan?
Sejak awal turnamen, Tuchel telah merancang pola permainan spesifik. Formasi 3-2-5 saat menyerang dan prinsip-prinsip ketat seperti umpan pendek untuk memancing tekanan lawan, akselerasi cepat setelahnya, serta rotasi segitiga di sisi sayap menjadi andalan. Namun, dalam laga melawan Norwegia, eksekusi di lapangan jauh dari kata sempurna. Penguasaan bola Inggris merosot drastis dari 68 persen di babak pertama menjadi 44 persen di babak kedua. "Kami tidak cukup cepat, tidak cukup repetitif, dan banyak kesalahan teknis," keluh Tuchel.
Norwegia yang bertahan dengan formasi 4-5-1 sebenarnya memberi ruang bagi Inggris untuk menerapkan rotasi sayap. Sayap kanan Norwegia, Julian Ryerson, kerap ditinggalkan oleh gelandang sayap Alexander Sorloth yang memegang zona. Situasi ini seharusnya bisa dieksploitasi oleh Anthony Gordon, Elliot Anderson, atau Nico O'Reilly. Namun, umpan-umpan lambat dan keputusan mundur ke bek tengah membuat peluang itu hilang. Padahal, Irak dan Prancis sebelumnya sukses mencetak gol ke gawang Norwegia dengan pola serupa.
Yang menarik, dua gol Inggris justru lahir dari momen transisi cepat ketika pertahanan Norwegia belum rapi. Gol pertama berawal dari tendangan gawang panjang yang dimenangkan Anderson, lalu ia membawa bola ke depan dan memaksa Ryerson keluar posisi. Ruang pun terbuka untuk Gordon dan akhirnya Bellingham yang datang dari belakang tanpa kawalan. Pola serupa juga terjadi pada gol kedua setelah tendangan sudut, di mana Rogers melepaskan tembakan jarak jauh yang memantul dan disambar Bellingham. "Permainan terbagi dalam banyak aspekโteknis, taktis, dan yang terbesar adalah psikologis, mengelola kesulitan," kata Bellingham.
Kemampuan pemain Inggris untuk memanfaatkan kekacauan lawan menjadi senjata utama. Namun, Tuchel menginginkan konsistensi. "Performa membantu Anda memenangkan pertandingan," tegasnya. Pekerjaan rumahnya kini adalah menciptakan kondisi yang lebih andal untuk melahirkan peluang sepanjang laga, bukan hanya saat lawan lengah.
Di semifinal, Inggris akan berhadapan dengan Argentinaโtim yang menurut analis memiliki kelemahan di sisi sayap. Tuchel dipastikan akan kembali memaksakan rotasi segitiga sayap. Namun, jika eksekusi masih lamban dan bergantung pada momen individu, bukan tidak mungkin Argentina yang lebih disiplin secara taktis akan mampu meredam Inggris. Pertanyaannya, bisakah Inggris terus mengandalkan faktor keberuntungan dan mentalitas juara, ataukah Tuchel harus segera menemukan solusi taktis yang lebih matang?



