Viral Petani 'Terbang' Diangkut Drone, Bos Perusahaan Minta Maaf
Baca dalam 60 detik
- Direktur PT Bina Tani Makmur Jombang, Budianto, meminta maaf secara resmi di kantor polisi setelah videonya yang memperlihatkan petani diangkut drone viral dan memicu kontroversi.
- Budianto menegaskan video tersebut hanyalah konten iseng untuk menguji kemampuan angkut drone, bukan metode operasional pertanian yang sebenarnya.
- Drone pertanian itu sebenarnya difungsikan untuk menyemprot pestisida, mengangkut pupuk, bibit, dan hasil panen, serta menjadi solusi bagi petani muda yang enggan bekerja manual.

Budianto, Direktur PT Bina Tani Makmur Jombang sekaligus pemilik akun TikTok @mbahkaruhon.tiktok.com1, secara resmi menyampaikan permintaan maaf di Kantor Polsek Kabuh, Jombang, setelah videonya yang memperlihatkan seorang petani diangkut menggunakan drone pertanian berkapasitas besar viral di media sosial dan memicu kegaduhan publik.
Dalam video klarifikasi yang diunggahnya, Budianto mengakui bahwa rekaman tersebut tidak dibuat di wilayah Kabuh, Jombang, seperti yang sempat dikhawatirkan warganet. Ia juga berjanji tidak akan mengulangi aksi berbahaya itu. "Atas kegaduhan video tersebut saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat di manapun berada, dan akan saya sampaikan kepada mitra saya bahwa hal tersebut sangat berbahaya," ujarnya.
Budianto menjelaskan bahwa drone pertanian tersebut sebenarnya dibeli untuk keperluan operasional perkebunan, seperti menyemprot pestisida dan pupuk cair dari ketinggian. Metode ini dinilai efektif dan efisien, terutama di medan perkebunan yang sulit dijangkau. "Drone pertanian yang kapasitasnya besar itu muatannya air bisa 150 liter. Kami modifikasi, copot tandon airnya, lalu dikasih tali untuk mengikat pupuk atau bibit," katanya.
Selain itu, drone juga menjadi solusi untuk menarik minat petani muda yang enggan bekerja manual, terutama mengangkut pupuk kandang. Menurut Budianto, anak muda tidak mau bersentuhan langsung dengan kotoran ternak meski ditawari upah tinggi. Dengan drone, mereka bisa menjadi operator tanpa harus memegang pupuk kandang. "Yang megang kohe (pupuk kandang) nanti petani-petani yang sudah tua, yang sudah terbiasa dengan bau kotoran. Yang muda-muda jadi operator," ucapnya.
Mengenai momen petani yang diterbangkan dengan diikat ke drone, Budianto menegaskan bahwa itu murni iseng untuk memuaskan rasa penasarannya menguji kemampuan angkut alat tersebut. "Coba-coba ini angkut aku kuat enggak? Beratmu kan cuman mungkin 60 sampai 70 kilo diangkut, ya bisa nyampe sana," tuturnya. Ia memastikan bahwa kejadian itu bukan bagian dari operasional rutin dan tidak akan terulang lagi.
Ke depan, Budianto berkomitmen mengembalikan fungsi drone sesuai peruntukannya, yaitu untuk distribusi pupuk, bibit, dan hasil panen. Permintaan maaf ini diharapkan dapat meredakan keresahan masyarakat sekaligus menjadi pengingat bahwa penggunaan drone untuk mengangkut manusia sangat berbahaya dan melanggar aturan. Pertanyaan yang tersisa: akankah insiden ini mendorong regulasi yang lebih ketat terhadap penggunaan drone pertanian di Indonesia?



