Philippine Airlines Akhiri Puasa 20 Tahun, Borong 15 Boeing 787 dan 9 Airbus A350
Baca dalam 60 detik
- Philippine Airlines akan memesan 15 unit Boeing 787-10 dan 9 unit Airbus A350-1000, menandai pembelian Boeing pertama maskapai itu dalam dua dekade.
- Keputusan ini memicu persaingan mesin antara Rolls-Royce dan GE Aerospace, serta memperkuat posisi PAL di tengah ekspansi bandara baru dan rencana bergabung dengan oneworld Alliance.
- Langkah PAL juga sejalan dengan upaya AS mengurangi defisit perdagangan dengan Filipina yang mencapai hampir USD5 miliar pada 2024.

Philippine Airlines (PAL) dikabarkan akan memesan 15 pesawat Boeing 787-10 dan sembilan Airbus A350-1000, menandai pembelian perdana dari pabrikan AS dalam hampir 20 tahun terakhir. Langkah ini sekaligus mengakhiri dominasi Airbus di jajaran armada jarak jauh maskapai pelat merah tersebut.
Menurut sumber industri yang dikutip Jumat (10/7), pemesanan dijadwalkan diumumkan pada Farnborough Airshow bulan ini. Keputusan PAL mengakomodasi kedua pabrikan raksasa itu memicu persaingan baru di sektor mesin: Rolls-Royce asal Inggris akan bersaing dengan GE Aerospace dari AS untuk memasok tenaga bagi Boeing 787. Sementara Airbus dan Boeing enggan berkomentar, PAL juga bungkam soal detail akuisisi.
Langkah ini bukan tanpa tanda. Pada Juni lalu, presiden PAL mengungkapkan di sebuah pertemuan puncak industri bahwa maskapai berencana memesan pesawat baru dalam beberapa bulan mendatang. Laporan Bloomberg sebelumnya menyebut PAL akan membagi pesanan sekitar 20 unit antara Airbus dan Boeing. Kini, dengan komposisi 15 Boeing dan 9 Airbus, total pesanan mencapai 24 unitโmelampaui perkiraan awal.
Saat ini, armada wide-body PAL didominasi Airbus A330 generasi lama dan Boeing 777, plus beberapa A350 baru. Penambahan 787-10, yang merupakan pesaing langsung A330neo, akan memperkuat rute jarak jauh maskapai. Di sisi lain, A350-1000 akan menjadi tulang punggung untuk rute premium dan ultra-long-haul.
Di luar dinamika persaingan pabrikan, keputusan PAL memiliki dimensi geopolitik. Washington tengah berupaya menekan defisit perdagangan dengan Filipina yang mencapai hampir USD5 miliar pada 2024. Filipina telah berjanji meningkatkan impor dari AS, dan pesanan Boeing ini bisa menjadi salah satu instrumen diplomasi dagang. Tak heran jika pemesanan ini juga dibaca sebagai sinyal politik di tengah ketegangan tarif global.
Bagi Indonesia, langkah PAL menjadi cermin strategi maskapai di kawasan. Dengan pertumbuhan lalu lintas udara Asia Tenggara yang pesat, persaingan antara Boeing dan Airbus kian sengit. Garuda Indonesia, misalnya, masih mengandalkan armada campuran serupa, namun belum ada tanda-tanda akan mengikuti jejak PAL dalam waktu dekat. Ekspansi PAL juga diiringi rencana pembangunan bandara baru di Filipina dan keanggotaan oneworld Alliance, yang akan meningkatkan konektivitas regional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana PAL akan mendanai akuisisi ini dan apakah maskapai lain di Asia Tenggara akan melakukan langkah serupa. Dengan Farnborough Airshow sebagai panggung, persaingan duopoli Boeing-Airbus dipastikan semakin memanas.



