Ecclestone Ukir Sejarah di Lord's: Pemecah Rekal Inggris di Tengah Nostalgia Legenda
Baca dalam 60 detik
- Sophie Ecclestone memecahkan rekor wicket terbanyak Inggris di semua format dengan 336, melewati Katherine Sciver-Brunt.
- Pertandingan ini merupakan Test wanita pertama di Lord's, diwarnai penghormatan kepada para pemain era amatir yang membuka jalan.
- Rekor ini menegaskan dominasi Ecclestone di kancah internasional, bersaing ketat dengan Deepti Sharma menuju 400 wicket.

Sophie Ecclestone resmi mencatatkan namanya sebagai pemegang rekor wicket terbanyak Inggris di semua format kriket internasional setelah sukses menjatuhkan Sayali Satghare pada hari pertama Test wanita pertama di Lord's, Kamis (22/6). Pemain spin kiri berusia 27 tahun itu mengoleksi 336 wicket, melampaui catatan Katherine Sciver-Brunt yang sebelumnya memegang rekor dengan 335 wicket.
Pencapaian itu terjadi di tengah momen bersejarah bagi kriket wanita Inggris. Lord's, yang selama puluhan tahun menjadi simbol eksklusivitas pria, akhirnya menjadi tuan rumah Test wanita. ECB memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan penghormatan kepada para legenda era amatir, seperti Enid Bakewell dan Anya Shrubsole, yang berjuang di masa ketika wanita bahkan belum diizinkan menjadi anggota MCC. Mereka membunyikan bel di lapangan sebelum pertandingan, sebuah momen emosional yang diakui oleh mantan pemain Alex Hartley sebagai "sangat mengharukan".
Bagi Indonesia, momen ini menjadi pengingat betapa pentingnya kesetaraan gender dalam olahraga. Di dalam negeri, kriket wanita masih berjuang untuk mendapatkan perhatian dan fasilitas yang setara. Keberhasilan Ecclestone dan pengakuan terhadap para pendahulunya bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan kriket wanita di Indonesia, yang saat ini tengah didorong oleh Persatuan Cricket Indonesia (PCI) untuk lebih kompetitif di tingkat Asia.
Meskipun Inggris kalah dalam Piala Dunia T20 lima hari sebelumnya, semangat tim tidak surut. Seamer Issy Wong, yang absen di Piala Dunia, justru tampil gemilang dengan memecahkan kemitraan berbahaya Smriti Mandhana dan Jemimah Rodrigues. Wong mengaku senang bisa kembali bermain dengan bola merah setelah lebih dari sebulan hanya menjadi pemain cadangan. "Kami hanya punya empat bola merah di tas pelatih, tetapi senang bisa bowling lagi," ujarnya.
Pertandingan ini juga menyoroti jarangnya Test wanita dimainkan. Wong bahkan tidak membawa topi Test-nya dan harus diantar oleh ayahnya. Namun, antusiasme para pemain terhadap format terpanjang ini menjadi bukti bahwa kriket Test tetap relevan di era dominasi T20. Ecclestone sendiri mengaku tidak pernah membayangkan bisa mencapai rekor ini. "Berjalan keluar dari Long Room bersama mantan pemain... ya, hari sekali seumur hidup," katanya.
Ke depan, persaingan antara Ecclestone dan Deepti Sharma untuk menjadi wanita pertama yang mencapai 400 wicket internasional akan menjadi narasi menarik. Dengan usia yang masih muda, keduanya berpotensi terus memecahkan rekor. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah federasi kriket global, termasuk ICC, akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi Test wanita agar momen seperti ini tidak hanya menjadi nostalgia belaka?



