Topan Maysak Tewaskan Puluhan, Kebun Binatang China Dikritik karena Mengurung Hewan
Baca dalam 60 detik
- Kebun Binatang Guigang di China selatan mengurung singa, beruang, dan serigala saat banjir akibat Topan Maysak, menyebabkan tiga singa tenggelam dan lebih dari 100 hewan hilang.
- PETA mengecam keputusan itu sebagai tidak berperikemanusiaan, namun pemilik kebun binatang beralasan untuk mencegah hewan buas melarikan diri dan membahayakan warga.
- Bencana ini menjadi peringatan bagi fasilitas penangkaran satwa liar di kawasan rawan cuaca ekstrem, termasuk Indonesia, untuk memiliki rencana evakuasi yang matang.

Keputusan kontroversial sebuah kebun binatang di China selatan yang mengurung hewan buas di dalam kandang saat banjir bandang menerjang justru berujung petaka: tiga ekor singa ditemukan tewas tenggelam, sementara lebih dari seratus satwa lainnya hilang terbawa arus. Insiden yang dipicu oleh Topan Maysak ini memicu kecaman dari pegiat hak asasi hewan dan menjadi sorotan atas lemahnya kesiapsiagaan fasilitas penangkaran dalam menghadapi bencana alam.
Menurut laporan media lokal Red Star News, Kebun Binatang Guigang di wilayah Guangxi—salah satu daerah yang paling parah terdampak topan—memilih mengunci kandang singa, beruang, dan serigala saat air mulai naik. Pemilik kebun binatang menyatakan bahwa langkah itu diambil untuk mencegah hewan-hewan berbahaya melarikan diri dan mencelakai warga. Namun, ketinggian air yang mencapai lebih dari dua meter membuat hewan-hewan tersebut tidak bisa menyelamatkan diri. Selain tiga singa yang mati, puluhan satwa lain seperti zebra, kuda poni, burung unta, alpaka, rakun, dan merak ikut tersapu banjir. Hingga berita ini diturunkan, setidaknya satu ekor zebra ditemukan mati, sementara beruang cokelat dan serigala yang selamat dilaporkan dalam kondisi kritis akibat nyaris tenggelam.
Organisasi perlindungan hewan PETA mengecam keras tindakan tersebut. Jason Baker, presiden PETA untuk Asia, menyebut keputusan itu sebagai “tidak berperikemanusiaan” karena membiarkan hewan terperangkap di balik jeruji saat air naik. Namun, ia juga mengakui bahwa melepasliarkan satwa liar saat bencana bukanlah solusi yang bertanggung jawab. “Ini adalah dilema yang harus diantisipasi dengan rencana evakuasi yang matang, bukan dengan mengurung atau melepas begitu saja,” ujar Baker dalam pernyataannya. Ia mendesak semua kebun binatang di kawasan rawan cuaca ekstrem untuk menyusun prosedur darurat yang melindungi hewan dan manusia.
Bencana ini tidak hanya menimpa kebun binatang. Di kota Hengzhou, Guangxi, banjir juga menghancurkan sebuah peternakan ular, menyebabkan ratusan ular kobra, tikus raja, dan ular air terlepas ke pemukiman. Seorang perempuan dilaporkan tewas akibat digigit ular dalam insiden tersebut. Topan Maysak sendiri telah menewaskan sedikitnya 39 orang di China selatan, merusak bendungan, dan merendam seluruh kota. Wilayah itu kini bersiap menghadapi Topan Bavi yang diprediksi lebih kuat dan diperkirakan mencapai daratan China timur pada Sabtu.
Bagi Indonesia, yang juga kerap dilanda bencana hidrometeorologi, tragedi ini menjadi pengingat penting. Banyak kebun binatang dan pusat konservasi di Tanah Air berlokasi di daerah rawan banjir dan longsor. Minimnya prosedur evakuasi satwa saat bencana bukan hanya mengancam kesejahteraan hewan, tetapi juga berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat sekitar. Pertanyaan mendasar yang muncul: sudahkah kebun binatang di Indonesia memiliki rencana kontinjensi yang memadai untuk menghadapi cuaca ekstrem? Atau akankah kita menyaksikan tragedi serupa terulang di masa depan?



