Ponsel di Lapangan: Mengapa Alexander Zverev Dikecualikan dari Larangan Wimbledon?
Baca dalam 60 detik
- Petenis Jerman Alexander Zverev mendapat izin khusus menggunakan ponsel saat pertandingan Wimbledon karena menderita diabetes tipe 1, untuk memantau kadar gula darah.
- Aturan ketat turnamen Grand Slam melarang perangkat elektronik di lapangan, namun pemain diabetes seperti Zverev dikecualikan demi alasan medis.
- Insiden di Halle Open Juni lalu, saat monitor Zverev rusak dan menyebabkan overdosis insulin, menunjukkan pentingnya akses ponsel bagi atlet dengan kondisi kronis.

Alexander Zverev, petenis Jerman yang melaju ke final tunggal putra Wimbledon 2024, menjadi sorotan setelah beberapa kali terlihat menggunakan ponsel di tengah pertandingan. Di turnamen yang melarang keras penggunaan perangkat elektronik di lapangan, tindakan Zverev memicu pertanyaan dari banyak penonton. Namun, di balik layar, ada alasan medis yang sah: Zverev adalah penyandang diabetes tipe 1, dan ponselnya adalah alat vital untuk memantau kadar glukosa darah.
All England Club, penyelenggara Wimbledon, mengonfirmasi bahwa turnamen Grand Slam memiliki daftar pemain diabetes yang diberikan pengecualian medis. Mereka diizinkan membawa ponsel ke lapangan untuk memeriksa kadar gula dan, jika perlu, menyuntikkan insulin. Zverev sendiri mengaku membawa dua ponsel; satu tanpa kartu SIM yang khusus digunakan untuk menerima data dari monitor glukosa yang menempel di tubuhnya. Metode ini menggantikan tusukan jari berulang yang biasa dilakukan penderita diabetes.
“Itulah mengapa wasit mengizinkan saya memeriksa ponsel, agar saya tidak perlu menusuk jari setiap kali pergantian sisi,” ujar Zverev kepada BBC Sport. Tanpa akses ke ponsel, pemain diabetes harus melakukan pengecekan manual yang lebih merepotkan dan berpotensi mengganggu konsentrasi. Pengecualian ini menunjukkan bagaimana turnamen tenis profesional beradaptasi dengan kebutuhan medis atlet, meskipun aturan ketat tetap berlaku untuk pemain lain.
Bagi atlet non-diabetes, aturan Lawn Tennis Association (LTA) sangat tegas: ponsel harus dimatikan dan disimpan sebelum memasuki lapangan, serta tidak boleh terlihat oleh pemain atau wasit. Jam tangan pintar dan perangkat serupa juga dilarang. Pelanggaran dapat berakibat diskualifikasi langsung dan laporan ke badan pengatur yang bisa memicu investigasi formal. Ketatnya aturan ini menegaskan bahwa pengecualian Zverev benar-benar bersifat medis, bukan sekadar dispensasi biasa.
Kisah Zverev menyoroti tantangan yang dihadapi atlet elite dengan diabetes tipe 1. Kondisi autoimun ini membutuhkan manajemen kadar gula darah yang ketat, terutama saat aktivitas fisik berat seperti pertandingan tenis. Fluktuasi glukosa dapat mempengaruhi performa, konsentrasi, dan bahkan keselamatan atlet. Di Indonesia, jumlah penyandang diabetes terus meningkat—menurut data International Diabetes Federation, sekitar 10,7 juta orang Indonesia hidup dengan diabetes pada 2021. Meski belum banyak atlet profesional Indonesia yang terdiagnosis diabetes, kasus Zverev bisa menjadi contoh bagaimana olahraga nasional dapat mengakomodasi kebutuhan medis serupa.
Insiden di Halle Open menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi Zverev. Saat monitornya tidak berfungsi, ia secara tidak sengaja menyuntikkan insulin dosis tinggi, yang membuatnya merasa “sangat buruk” dan harus mengonsumsi gula dalam jumlah besar untuk mengimbangi. Kejadian ini menggarisbawahi betapa krusialnya akses ke teknologi pemantauan glukosa secara real-time. Tanpa ponsel yang menampilkan data monitor, Zverev mungkin harus mengandalkan perkiraan atau tes tusuk jari yang lebih lambat dan kurang akurat.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah turnamen tenis lain, termasuk di Indonesia, akan mengadopsi kebijakan serupa. Dengan semakin banyaknya atlet yang hidup dengan kondisi kronis, fleksibilitas aturan medis menjadi penting. Zverev sendiri membuktikan bahwa diabetes bukan halangan untuk berprestasi di level tertinggi, asalkan ada dukungan yang tepat. Namun, apakah pengecualian seperti ini akan membuka celah bagi penyalahgunaan? Regulator olahraga tentu harus tetap waspada, namun prioritas utama tetaplah kesehatan atlet.



