Serangan Harimau Sumatra Tewaskan Bocah di Pelalawan, BBKSDA Pasang Kamera Jebak
Baca dalam 60 detik
- Seorang anak 12 tahun tewas diterkam harimau sumatra di camp pekerja hutan tanaman industri Pelalawan, Riau, Selasa dini hari.
- BBKSDA Riau memasang kamera jebak dan mengidentifikasi jejak harimau berukuran besar di sekitar lokasi, mengindikasikan satwa masih berada di area tersebut.
- Konflik manusia-harimau ini menyoroti tekanan habitat akibat perluasan lahan industri yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi.

Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun ditemukan tewas dengan luka gigitan di leher setelah diserang harimau sumatra di area perkebunan hutan tanaman industri di Pelalawan, Riau, Selasa (7/7) dini hari. Insiden ini menjadi alarm baru atas meningkatnya konflik antara manusia dan satwa dilindungi di wilayah penyangga kawasan konservasi.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, mengungkapkan peristiwa terjadi sekitar pukul 04.30 WIB di camp pekerja PBPH-HTI (Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan Tanaman Industri) Desa Sungai Ara. Korban saat itu sedang menemani kakaknya mencuci peralatan makan di kamar mandi camp ketika tiba-tiba diseret harimau yang diduga masuk melalui pagar belakang yang rusak. Jenazah korban ditemukan sekitar 10 meter di belakang camp dengan luka parah di leher kiri dan kanan.
Tim BBKSDA yang turun ke lokasi pada Jumat (10/7) langsung memasang kamera jebak untuk memantau pergerakan satwa. "Kami sedang memasang camera trap di sekitar lokasi kejadian untuk mengidentifikasi keberadaan harimau," kata Supartono di Pekanbaru. Hasil pemantauan awal menunjukkan jejak kaki harimau dengan panjang 16 cm dan lebar 15 cm, serta jarak langkah hingga 120 cm, menandakan satwa berukuran besar masih berada di area tersebut.
Konflik ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan habitat yang semakin sempit. Kawasan hutan tanaman industri di Pelalawan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Zamrud dan area restorasi ekosistem, yang merupakan koridor satwa liar. Perluasan lahan industri tanpa pagar pengaman yang memadai meningkatkan risiko interaksi berbahaya. Menurut catatan BBKSDA, kasus serangan harimau terhadap manusia di Riau cenderung meningkat dalam lima tahun terakhir seiring menyusutnya tutupan hutan alam.
BBKSDA Riau mengimbau seluruh pekerja dan masyarakat di sekitar habitat harimau sumatra untuk meningkatkan kewaspadaan, tidak beraktivitas sendirian terutama pada malam hingga dini hari, serta segera melapor jika melihat satwa. "Kami akan melakukan penanganan secara terukur dengan mengedepankan keselamatan manusia dan pelestarian harimau sumatra sebagai satwa dilindungi," ujar Supartono. Langkah jangka panjang yang diperlukan mencakup perbaikan infrastruktur pagar camp, pemasangan alat deteksi dini, dan pengelolaan habitat yang lebih ketat.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah insiden ini akan mendorong evaluasi tata ruang dan pengelolaan konflik satwa liar di Riau, atau justru menjadi preseden bagi tindakan represif terhadap harimau sumatra yang terancam punah? Jawabannya akan menentukan nasib spesies kunci ini di tengah desakan ekonomi dan ekspansi industri.



