Sinner Hentikan Ambisi Sejarah Djokovic, Tantang Zverev di Final Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner menaklukkan Novak Djokovic tiga set langsung di semifinal Wimbledon, menunda rekor Grand Slam ke-25 sang legenda.
- Petenis Italia itu tampil dominan tanpa memberi satu pun break point hingga pertengahan set ketiga, menegaskan status unggulan pertama.
- Di partai puncak, Sinner akan berhadapan dengan Alexander Zverev yang baru saja meraih gelar Grand Slam perdananya di Prancis Terbuka.

Jannik Sinner kembali menjadi mimpi buruk Novak Djokovic di Wimbledon. Pada Jumat (12/7), petenis Italia peringkat satu dunia itu menghentikan langkah Djokovic yang memburu rekor ke-25 gelar Grand Slam, sekaligus tiket ke final turnamen tenis paling bergengsi di dunia. Kemenangan straight set 6-4, 6-4, 6-4 di Centre Court membuat Sinner menjadi petenis pertama Italia yang mencapai final Wimbledon dua kali berturut-turut.
Pertandingan semifinal ini menjadi ujian berat bagi Djokovic yang hanya unggul tipis dalam rekor pertemuan sebelumnya (7-5). Namun, Sinner tampil tanpa cela. Ia tidak memberikan satu pun break point kepada Djokovic hingga pertengahan set ketiga. Saat Djokovic akhirnya mendapat peluang, Sinner langsung mematikannya dengan ace. Total 16 ace dan 40 winner berbanding hanya 15 unforced error menjadi bukti dominasi sang juara bertahan.
Bagi Djokovic, kekalahan ini menunda ambisinya untuk memecahkan rekor Margaret Court sebagai pemegang gelar Grand Slam tunggal terbanyak sepanjang masa. Petenis Serbia berusia 39 tahun itu mendapat tepuk tangan meriah dari penonton saat meninggalkan lapangan, tetapi ia harus menunggu setidaknya hingga US Open untuk mencoba lagi. Djokovic sebelumnya bermain selama lebih dari lima jam pada babak keempat melawan Felix Auger-Aliassime, yang mungkin memengaruhi kebugarannya.
Di sisi lain lapangan, Alexander Zverev sukses mengakhiri perjalanan impian petenis wildcard asal Inggris, Arthur Fery. Juara Prancis Terbuka 2024 itu tampil solid untuk memastikan tempat di final ketujuhnya di ajang Grand Slam. Zverev kini akan menghadapi Sinner, lawan yang sudah sangat dikenalnya. Meski rekor pertemuan menunjukkan dominasi Sinner, Zverev datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah memenangi gelar mayor pertamanya di Roland Garros.
Kemenangan Sinner atas Djokovic juga menjadi sinyal perubahan generasi di puncak tenis dunia. Jika mampu mengalahkan Zverev pada Minggu (14/7), Sinner akan menjadi petenis termuda yang mempertahankan gelar Wimbledon sejak Rafael Nadal pada 2011. Bagi Indonesia, prestasi Sinner bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Tanah Air yang mulai merambah turnamen internasional, seperti di ajang ITF atau ATP Challenger.
Final nanti diprediksi berlangsung ketat. Sinner unggul dalam hal kecepatan dan ketepatan pukulan, sementara Zverev memiliki servis kuat dan pengalaman menghadapi tekanan. Pertanyaannya, mampukah Zverev mematahkan dominasi Sinner yang belum kehilangan satu set pun sejak babak pertama? Atau akankah Sinner menegaskan dirinya sebagai raja baru lapangan rumput?



