Kapten Skotlandia Siap Hadapi Juara Dunia di Benteng Pretoria
Baca dalam 60 detik
- Sione Tuipulotu memimpin Skotlandia melawan Afrika Selatan di Loftus Versfeld, stadion yang sama tempat ia membawa Glasgow Warriors juara URC 2024.
- Skotlandia belum pernah menang dalam tujuh lawatan ke Afrika Selatan, namun kemenangan atas Argentina pekan lalu menjadi modal kepercayaan diri.
- Pertandingan ini menjadi ujian sejati bagi evolusi tim Skotlandia yang disebut Tuipulotu semakin matang.

Kapten tim nasional Skotlandia, Sione Tuipulotu, tidak menyembunyikan ambisinya saat timnya bersiap menghadapi juara dunia Afrika Selatan di Loftus Versfeld, Pretoria, akhir pekan ini. Stadion yang menjadi markas Bulls itu menyimpan kenangan manis bagi Tuipulotu: di tempat yang sama, ia membawa Glasgow Warriors menaklukkan Bulls pada final United Rugby Championship (URC) 2024 dengan skor 21-16.
Meski Skotlandia belum pernah sekalipun menang dalam tujuh pertandingan tandang melawan Springboks di Afrika Selatan—terakhir bermain di sana pada 2014—Tuipulotu menolak bersikap pesimistis. Ia justru melihat kesamaan skenario dengan final URC tahun lalu, di mana banyak pemain dari kedua kubu kini kembali berhadapan di level internasional. "Saya lebih suka kepercayaan diri kami tetap tenang, cukup di ruang ganti," ujarnya kepada wartawan, mengindikasikan strategi psikologis yang hati-hati namun penuh keyakinan.
Pekan lalu, Skotlandia menunjukkan taringnya dengan mengalahkan Argentina 47-38 di kandang lawan. Kemenangan itu, menurut Tuipulotu, menjadi bukti bahwa timnya telah berevolusi. "Kami adalah tim yang sangat berbeda sekarang. Saya rasa kami telah berkembang menjadi tim yang kami inginkan," katanya. Ia menambahkan bahwa performa di Six Nations sebelumnya juga menunjukkan tanda-tanda positif, dan kemenangan di Argentina adalah konfirmasi atas kedewasaan tim.
Bagi Tuipulotu, laga melawan juara dunia adalah puncak dari perjalanan kariernya. "Inilah alasan saya mulai bermain rugby saat usia 12 tahun—untuk berada di pekan-pekan seperti ini, bersama kelompok seperti ini, dengan kesempatan menghadapi juara dunia di kandang mereka," tuturnya. Pernyataan itu mencerminkan semangat seorang kapten yang tidak hanya memimpin dengan kata-kata, tetapi juga dengan pengalaman dan determinasi.
Dari sisi taktik, Skotlandia dihadapkan pada tantangan besar: menghadapi Afrika Selatan yang dikenal dengan permainan fisik dan tekanan tinggi. Namun, dengan modal kemenangan tandang atas Argentina dan pengalaman Tuipulotu di Loftus Versfeld, bukan tidak mungkin Skotlandia mampu memutus rekor buruk mereka di Afrika Selatan. Pertanyaannya, bisakah kepercayaan diri yang "tenang" itu berbuah hasil di lapangan?



