Kartu Merah Quansah: Inggris Kehilangan Bek Kanan di Perempat Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Jarell Quansah dijatuhi sanksi larangan bermain dua pertandingan setelah kartu merah langsung diterima saat melawan Meksiko.
- Hukuman ini memunculkan kembali kontroversi inkonsistensi FIFA, menyusul keputusan kontroversial yang meringankan hukuman Folarin Balogun.
- Absennya Quansah mempersempit opsi lini belakang Inggris di fase gugur, sementara peluang banding tertutup aturan turnamen.

Bek kanan Inggris, Jarell Quansah, harus menepi dua laga setelah kartu merah yang diterimanya saat menghadapi Meksiko dikonfirmasi sebagai pelanggaran serius. Keputusan FIFA ini membuat tim asuhan Thomas Tuchel kehilangan satu opsi penting di sektor pertahanan jelang babak perempat final.
Quansah, yang kini membela Bayer Leverkusen, diusir wasit pada menit ke-54 kemenangan 3-2 atas Meksiko. Tantangan tinggi yang dilakukannya terhadap Jesus Gallardo dinilai sebagai serious foul play oleh komite disiplin FIFA. Alhasil, selain menjalani skorsing otomatis satu pertandingan, pemain berusia 23 tahun itu mendapat hukuman tambahan sehingga total harus absen dalam dua laga.
Konsekuensinya, Quansah dipastikan tidak akan tampil saat Inggris berhadapan dengan Norwegia di perempat final akhir pekan ini. Jika timnas Inggris lolos, ia juga harus melewatkan partai semifinal yang kemungkinan melawan Argentina atau Swiss. Namun, jika Inggris berhasil menembus final di New Jersey pada 19 Juli, Quansah bisa kembali dimainkan.
Federasi Sepak Bola Inggris (FA) sempat mempertimbangkan untuk mengajukan banding. Namun, berdasarkan regulasi turnamen, tidak ada jalur hukum yang tersedia untuk menggugat keputusan tersebut. Situasi ini menambah daftar panjang ketidakpuasan terhadap kebijakan disiplin FIFA, terutama setelah kasus Folarin Balogun yang menuai kontroversi.
Striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, juga mendapat kartu merah karena pelanggaran serius saat melawan Bosnia-Herzegovina. Secara aturan, ia seharusnya mendapat hukuman dua pertandingan. Namun FIFA secara mengejutkan hanya menjatuhkan larangan satu laga dan menunda eksekusinya selama 12 bulan. Keputusan ini diambil setelah Presiden AS Donald Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan ulang.
FIFA kemudian mengeluarkan pernyataan setebal 871 kata yang menjelaskan bahwa keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan โsemua keadaan spesifik seputar insiden dan bukti yang tersedia,โ tanpa merinci faktor apa saja yang diperhitungkan. Langkah ini menuai kritik luas, termasuk dari UEFA, Belgia, dan pelatih Inggris Thomas Tuchel. Bahkan, Prancis sempat mengajukan protes atas kartu kuning Michael Olise, namun ditolak FIFA.
Inkonsistensi dalam penerapan sanksi ini menjadi sorotan tajam. Jika Quansah harus menjalani hukuman penuh, mengapa Balogun mendapat keringanan? Pertanyaan itu terus mengemuka di tengah turnamen yang seharusnya menjunjung tinggi prinsip keadilan. Bagi Inggris, absennya Quansah menjadi pukulan telak di saat lini belakang sudah rapuh. Tuchel kini harus memutar otak mencari pengganti yang tepat untuk menghadapi Norwegia yang tajam di lini depan.
Ke depan, kasus ini bisa menjadi preseden bagi FIFA untuk merevisi mekanisme banding dan transparansi keputusan disiplin. Tanpa adanya konsistensi, kredibilitas turnamen akan terus dipertanyakan. Apakah FIFA akan belajar dari kontroversi ini, atau justru membiarkan inkonsistensi terus berulang?



