Pesawat Kargo Boeing 737-400 Hilang di Laut Arab: Lima Kru Dinyatakan Tewas
Baca dalam 60 detik
- Pesawat kargo K2 Airways rute Sharjah-Karachi dilaporkan jatuh di Laut Arab dengan lima awak, setelah mengalami masalah navigasi.
- Data radar menunjukkan penurunan ketinggian drastis dua kali, dan kontak hilang 155 mil laut barat Karachi.
- Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan penerbangan Pakistan, yang sempat dilarang terbang ke Uni Eropa karena masalah keselamatan.

Pemerintah Pakistan mengerahkan kapal militer dan pesawat tempur untuk mencari pesawat kargo Boeing 737-400 milik K2 Airways yang dilaporkan jatuh di Laut Arab, Selasa malam (7/7). Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengonfirmasi kelima awak pesawat dinyatakan tewas dalam insiden yang terjadi saat pesawat hendak mendarat di Karachi.
Menurut Otoritas Bandara Pakistan (PAA), pesawat yang terbang dari Sharjah, Uni Emirat Arab, melaporkan masalah pada sistem navigasi sebelum radar menunjukkan penurunan ketinggian yang cepat. Kontak terakhir hilang pada pukul 21.21 waktu setempat, sekitar 155 mil laut di barat Karachi. Data dari Flightradar24 mengindikasikan pesawat sempat kehilangan ketinggian, lalu naik lagi, dan kemudian turun drastis untuk kedua kalinya.
K2 Airways merupakan maskapai kargo swasta Pakistan yang melayani penerbangan domestik dan internasional. Pesawat yang diproduksi tahun 1999 ini sebelumnya digunakan sebagai pesawat penumpang oleh Aeroflot dan Garuda Indonesia sebelum dikonversi menjadi kargo pada 2012. Insiden ini menjadi yang terbaru dalam rentetan kecelakaan penerbangan di Pakistan, termasuk jatuhnya pesawat Pakistan International Airlines di Karachi pada 2020 yang menewaskan 97 orang.
Perdana Menteri Sharif menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan otoritas penerbangan sipil, angkatan laut, dan angkatan udara untuk mengintensifkan pencarian. Kapal niaga dan kapal militer dikerahkan, didukung pesawat militer. Hingga Rabu (8/7) pagi, puing-puing pesawat belum ditemukan, dan operasi pencarian masih berlangsung.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan keselamatan penerbangan kargo. Garuda Indonesia, yang pernah mengoperasikan pesawat serupa, perlu memastikan armada yang sudah tua menjalani perawatan ketat. Selain itu, larangan terbang maskapai Pakistan ke Uni Eropa yang baru dicabut tahun lalu menunjukkan bahwa standar keselamatan penerbangan di kawasan Asia Selatan masih menjadi sorotan.
Pakar penerbangan menilai bahwa kecelakaan berulang di Pakistan mencerminkan kelemahan sistemik dalam pengawasan dan pemeliharaan. โInsiden ini harus menjadi pelajaran bagi regulator di negara berkembang untuk memperketat audit keselamatan, terutama bagi maskapai kargo yang kerap luput dari perhatian,โ ujar analis penerbangan yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah otoritas Pakistan mampu mengungkap penyebab pasti kecelakaan ini dan mengambil langkah korektif yang memadai. Dengan riwayat keselamatan yang buruk, tekanan terhadap pemerintah untuk mereformasi sektor penerbangan sipil akan semakin besar.



