NNPC Teken Enam Kesepakatan Gas Strategis, Targetkan Industrialisasi dan Ketahanan Energi
Baca dalam 60 detik
- NNPC Ltd. menandatangani enam perjanjian gas dengan mitra strategis untuk memperkuat pasokan domestik dan mendorong industrialisasi berbasis gas di Nigeria.
- Kesepakatan mencakup pasokan gas ke pabrik baja Ajaokuta, proyek FLNG UTM, serta integrasi jaringan pipa dengan Chevron dan AGPC, yang totalnya akan menyuntikkan 800 MMscf/hari gas ke jaringan domestik.
- Langkah ini diharapkan meningkatkan keandalan pasokan energi, menarik investasi, dan mempercepat transformasi ekonomi Nigeria, dengan implikasi potensial bagi pasar energi global dan Indonesia.

Perusahaan minyak dan gas nasional Nigeria, NNPC Ltd., resmi menandatangani enam perjanjian strategis dengan sejumlah mitra industri guna mempercepat pemanfaatan gas bumi, memperkuat ketahanan energi, dan mendorong industrialisasi berbasis gas di negara tersebut. Kesepakatan yang ditandatangani di sela-sela Nigeria Oil and Gas Energy Week ke-25 di Abuja ini menjadi sinyal kuat komitmen pemerintah Nigeria untuk mentransformasi sektor hilir gas.
Enam perjanjian tersebut mencakup nota kesepahaman dan perjanjian jual beli gas dengan Ajaokuta Steel Company Ltd., perjanjian pasokan gas dengan UTM Floating LNG, serta tiga perjanjian masuk jaringan dengan Chevron Nigeria Ltd., AGPC, dan NNPC Exploration and Production Ltd. Direktur Utama NNPC, Bashir Ojulari, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menghidupkan mesin industrialisasi Nigeria. Menurutnya, gas memiliki potensi terbesar untuk mengubah perekonomian negara, melebihi sekadar sumber pendapatan dan keuntungan.
Salah satu poin krusial dalam paket kesepakatan ini adalah kemitraan dengan Ajaokuta Steel Company. Melalui perjanjian tersebut, NNPC dan ASCL sepakat untuk menghidupkan kembali kompleks baja Ajaokuta yang selama ini terbengkalai, sekaligus memperluas pemanfaatan gas domestik. Perjanjian jual beli gas selama 20 tahun akan memasok 3 juta kaki kubik standar per hari gas firm dan 47 juta kaki kubik per hari gas interruptible untuk menggerakkan pabrik baja tersebut. Selain itu, kerja sama ini juga mendukung produksi pipa baja lokal yang dibutuhkan untuk proyek infrastruktur strategis, seperti Pipa Gas Atlantik Afrika dan Pipa Sistem Escravos-Lagos fase tiga.
Di sisi lain, NNPC bersama joint venture-nya dengan Seplat Energy menandatangani perjanjian jual beli gas basah selama 15 tahun dengan UTM FLNG Ltd. Berdasarkan perjanjian tersebut, pasokan gas sebesar 200 MMscf/hari akan dialirkan ke proyek FLNG UTM, yang diharapkan dapat memuluskan keputusan investasi akhir pada kuartal keempat 2026. Proyek ini menjadi salah satu andalan Nigeria untuk meningkatkan kapasitas ekspor gas alam cair dan mendiversifikasi pasar energi.
Selain itu, tiga perjanjian masuk jaringan dengan Chevron, AGPC, dan NEPL bertujuan untuk mengalihkan pengaturan interkoneksi lama ke dalam Kode Jaringan Transportasi Gas Nigeria. Langkah ini diperkirakan akan menyuntikkan hingga 800 MMscf/hari gas alam ke dalam jaringan transportasi domestik, meningkatkan pasokan ke pembangkit listrik, industri berbasis gas, dan kawasan industri. Penandatanganan disaksikan oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menteri Negara Perminyakan (Gas) dan Menteri Negara Perminyakan (Minyak), menandakan dukungan penuh pemerintah.
Bagi Indonesia, langkah Nigeria ini menjadi pengingat akan pentingnya optimalisasi gas bumi sebagai jembatan menuju energi bersih. Dengan cadangan gas yang melimpah, Indonesia dapat belajar dari strategi Nigeria dalam membangun kemitraan hulu-hilir, merevitalisasi industri strategis seperti baja, serta memperkuat infrastruktur jaringan gas. Kesepakatan ini juga menunjukkan bahwa negara penghasil gas masih melihat peluang besar di sektor hilir, meskipun transisi energi global terus bergulir. Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu meniru langkah serupa untuk mendorong industrialisasi dan ketahanan energi nasional?



