Akiko Hayashi, Ilustrator Legendaris Buku Anak Jepang, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Akiko Hayashi, ilustrator buku anak legendaris yang karyanya terjual lebih dari 20 juta kopi, meninggal dunia pada 1 Juli 2026 di usia 81 tahun akibat pneumonia.
- Ia dikenal luas lewat ilustrasi serial 'Miki's First Errand' dan volume pertama 'Kiki's Delivery Service' yang diadaptasi menjadi film animasi Studio Ghibli.
- Kepergian Hayashi meninggalkan warisan besar dalam dunia literasi anak, dengan karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan terus dicetak ulang hingga kini.

Dunia literasi anak kehilangan salah satu tokoh terbesarnya. Akiko Hayashi, ilustrator dan penulis buku anak asal Jepang yang karyanya telah menemani jutaan anak di berbagai negara, meninggal dunia pada 1 Juli 2026 di sebuah rumah sakit di Prefektur Nagano, Jepang tengah. Ia menghembuskan napas terakhir akibat pneumonia di usia 81 tahun, sebagaimana diumumkan oleh penerbit Fukuinkan Shoten Publishers Inc.
Hayashi memulai kariernya sebagai ilustrator buku anak pada 1973 lewat buku berjudul Kamihikoki (Pesawat Kertas). Namun, namanya melambung berkat kolaborasi dengan penulis Yoriko Tsutsui dalam Miki's First Errand (1976). Buku yang mengisahkan petualangan seorang anak kecil yang disuruh ibunya berbelanja susu sendirian itu langsung mendapat sambutan hangat dan hingga kini masih dicetak ulang sebagai bacaan klasik anak-anak Jepang.
Tak hanya itu, Hayashi juga menjadi ilustrator volume pertama novel anak Kiki's Delivery Service karya Eiko Kadono. Novel tersebut kemudian diadaptasi menjadi film animasi legendaris oleh Studio Ghibli arahan Hayao Miyazaki pada 1989. Sentuhan ilustrasi Hayashi pada edisi pertama novel itu turut membentuk visualisasi awal karakter Kiki yang ikonik.
Karya-karya Hayashi dikenal karena kemampuannya menangkap ekspresi dan emosi anak-anak secara hidup dan natural. Gaya ilustrasinya yang hangat dan detail membuat buku-bukunya mudah dicintai lintas generasi. Beberapa judul lain yang ia tulis sekaligus ilustrasi antara lain Good Evening Mr. Moonโyang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Mandarin, Korea, dan bahasa lainnyaโserta Aki and the Fox.
Di Indonesia, pengaruh Hayashi mungkin tidak sepopuler di Jepang, namun beberapa karyanya seperti Miki's First Errand dan Good Evening Mr. Moon telah diterjemahkan dan beredar di pasaran. Buku-buku tersebut kerap menjadi rekomendasi bacaan anak di perpustakaan dan toko buku, terutama bagi orang tua yang ingin mengenalkan literasi visual berkualitas kepada buah hati. Gaya ilustrasi Hayashi yang menonjolkan ekspresi natural anak-anak juga menjadi inspirasi bagi banyak ilustrator buku anak di Tanah Air.
Kepergian Hayashi meninggalkan duka mendalam bagi komunitas sastra anak Jepang dan dunia. Penerbit Fukuinkan Shoten menyebut bahwa karya-karyanya akan terus hidup sebagai warisan abadi. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah generasi ilustrator baru mampu meneruskan tradisi visual yang kaya emosi seperti yang telah Hayashi bangun selama setengah abad?



