Anak 8 Tahun Promosikan Usaha Daur Ulang Ibu Korban Luka Bakar, Viral di China
Baca dalam 60 detik
- Seorang bocah lelaki berusia delapan tahun di China menjadi viral setelah dengan berani mempromosikan usaha daur ulang milik ibunya yang mengalami luka bakar parah di depan mahasiswa.
- Ibu tunggal tersebut, mantan pembawa acara TV, kehilangan tabungan dan rumah akibat ledakan lima tahun lalu, namun kini bangkit melalui usaha kecil-kecilan.
- Kisah ini menyoroti ketangguhan keluarga dan kepedulian sosial, menginspirasi banyak warganet di China dan dunia.

Seorang bocah lelaki berusia delapan tahun dari Zhengzhou, Provinsi Henan, China, mencuri perhatian publik setelah dengan lantang mempromosikan usaha daur ulang milik ibunya yang mengalami luka bakar parah. Momen langka itu terjadi pada 28 Juni lalu, saat ia menemani sang ibu ke kampus setempat dan bergabung dalam pertandingan sepak bola informal.
Chunchun, demikian panggilan akrabnya, melihat mahasiswa memegang botol minum kosong. Tanpa ragu, ia maju ke depan kerumunan dan memperkenalkan bisnis daur ulang keluarganya. โIbu saya luka bakar parah. Kami mengumpulkan barang daur ulang dan juga menjual sandal seharga 5 yuan (sekitar Rp11.000) per pasang. Jika ada barang bekas, kalian bisa mencari ibu saya,โ ujarnya, lalu mengucapkan terima kasih dan mendoakan kesuksesan akademik para mahasiswa.
Pidato spontan itu disambut tepuk tangan meriah. Para mahasiswa langsung menyerahkan botol bekas dan mengantre membeli sandal. Salah seorang bahkan membeli sepuluh pasang untuk teman sekamarnya. Aksi Chunchun yang tulus dan berani menjadi viral di media sosial China, memicu gelombang empati dan kekaguman.
Di balik viralnya momen tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang mengharukan. Chen, sang ibu, dulunya adalah seorang pembawa acara televisi. Setelah bercerai, ia membesarkan Chunchun seorang diri. Lima tahun lalu, sebuah ledakan menyebabkan luka bakar menutupi 45 persen tubuhnya, mengakibatkan cacat permanen dan kehilangan beberapa jari. Peristiwa itu menghabiskan hampir seluruh tabungan keluarga, memaksanya menjual mobil dan rumah. Namun, Chen tidak menyerah. Ia menjalani rehabilitasi, belajar menulis ulang, dan menguasai keterampilan merangkai bunga. โTidak ada jalan buntu dalam hidup,โ tulisnya di media sosial.
Tak bisa kembali ke dunia penyiaran, Chen beralih ke usaha daur ulang dan berjualan kaki lima. Awalnya ia menjual air minum di dekat sekolah Chunchun, lalu beralih ke sandal. Chunchun selalu membantu sepulang sekolah, mengajak teman-temannya membeli, menata barang, dan mengangkut kardus bekas. Meski gemar sepak bola, ia tak pernah meminta bermain karena sadar kondisi keuangan ibunya. Chen yang terharu akhirnya mengajaknya ke lapangan kampus, dan di situlah Chunchun justru mempromosikan usaha ibunya.
Seorang fotografer yang merekam adegan itu mengatakan, anak seusia Chunchun biasanya malu-malu, namun ia โmemilih dengan berani memperkenalkan ibunya kepada semua orang.โ Saat dipuji karena penampilannya, Chunchun menjawab, โKarena saya mirip ibu saya.โ Ia juga berharap kelak bisa bekerja untuk melunasi utang keluarga dan menyebut dirinya โpria sejati.โ
Kisah ini mengingatkan pada realitas sosial di Indonesia, di mana anak-anak dari keluarga prasejahtera kerap membantu orang tua mencari nafkah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2023 terdapat sekitar 9,5 persen anak usia 10-17 tahun yang bekerja, sebagian besar di sektor informal. Meski berbeda konteks, semangat Chunchun dan Chen menjadi cermin bahwa solidaritas keluarga dan ketekunan bisa mengatasi keterbatasan.
Keluarga tersebut dikabarkan telah pindah ke Hangzhou, China timur, untuk mempelajari merangkai bunga sebagai persiapan membuka usaha baru. Warganet pun memberikan dukungan moral. โTubuh Chunchun yang kecil menyimpan keberanian dan tanggung jawab luar biasa,โ komentar seorang pengguna. Lainnya menambahkan, โIbu yang kuat melahirkan anak yang kuat. Keluarga bukan beban, melainkan saling mendukung.โ Pertanyaannya, akankah kisah ini mendorong lebih banyak perhatian pada keluarga penyintas musibah dan anak-anak yang menjadi tulang punggung keluarga?



