Skrillex: Lagu Buatan AI Tak Mampu Ciptakan Rasa ‘Dilihat’ bagi Pendengar
Baca dalam 60 detik
- Skrillex menegaskan musik buatan AI tidak memiliki dampak emosional yang sama karena tidak mampu membuat pendengar merasa dipahami.
- Dalam wawancara pertama dalam satu dekade, ia mengkritik kemampuan AI untuk meniru koneksi manusia yang menjadi inti nilai seni.
- Pernyataan ini memicu diskusi tentang masa depan industri musik di tengah maraknya konten buatan algoritma.

Skrillex, nama panggung dari Sonny Moore, menegaskan bahwa lagu-lagu yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) tidak mampu memberikan dampak emosional yang sama seperti karya manusia. Menurutnya, pendengar kehilangan sensasi 'dilihat' atau dipahami yang hanya bisa muncul dari sentuhan manusia.
Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara pertamanya dalam satu dekade terakhir bersama majalah Jerman 032c. Berbincang dengan seniman Inggris-Swedia Ecco2K, Moore mengaku telah lama merenungkan peran AI dalam musik hingga akhirnya tersadar secara mendalam.
“Saya pikir nilai seni hampir bisa diukur dari kemampuannya membuat seseorang merasa dilihat. Setidaknya itu yang saya rasakan sebagai pendengar,” ujarnya. Ia mencontohkan pengalaman mendengarkan Justice, Daft Punk, atau Metallica yang terasa begitu kuat karena ada keakraban yang belum pernah ada sebelumnya. “Itu membuat Anda berpikir: ‘Mereka mengerti saya. Mereka berbicara kepada saya.’ Mungkin ada lagu AI yang bisa viral, tapi Anda tidak akan pernah merasakan itu jika tidak ada manusia di sisi lain.”
Moore juga berbagi pengalaman menghadapi kritik sepanjang kariernya. Ia mengaku sudah siap dengan penolakan sejak masih menjadi frontman From First to Last. “Kami tidak cukup keras untuk penonton hardcore, tapi lebih agresif dari Fall Out Boy. Saya memakai eye shadow merah muda dan dipanggil dengan berbagai sebutan. Saya tidak tahu apakah itu disengaja atau saya hanya tidak sadar diri, tapi saya selalu tetap maju,” kenangnya.
Kesuksesan besar datang lewat EP Scary Monsters and Nice Sprites yang justru dibuat dengan modal sangat terbatas. “Orang mengira itu bagian dari mesin besar yang digerakkan uang, padahal hanya soal waktu yang tepat dan viralitas alami,” jelas Moore. Ia menegaskan motivasi utamanya membuat musik adalah untuk dinikmati saat DJ, bukan demi keuntungan finansial. “Saya hanya ingin orang datang ke pertunjukan, melompat-lompat, dan menciptakan ruang bersama yang nyata. Itu saja yang saya inginkan dari musik saya.”
Pandangan Skrillex ini relevan bagi industri musik Indonesia yang tengah bergulat dengan hadirnya teknologi AI. Beberapa musisi Tanah Air mulai bereksperimen dengan alat berbasis AI untuk menciptakan lagu, namun kekhawatiran akan hilangnya sentuhan personal dan koneksi emosional dengan pendengar juga mengemuka. Jika AI terus berkembang, apakah pendengar masih bisa merasakan 'dilihat' seperti yang diungkapkan Skrillex? Atau justru akan lahir genre baru yang mendefinisikan ulang makna seni?



