Dari Kuil ke Laboratorium: Konglomerat India Mulai Gencar Danai Riset Sains
Baca dalam 60 detik
- Filantropi sains di India bergeser dari donasi keagamaan ke pendanaan riset fundamental, dengan komitmen mencapai miliaran dolar.
- Para taipan teknologi dan properti mendirikan institut fisika, biologi, dan beasiswa teknik, meniru model Amerika Serikat.
- Meski pertumbuhan pesat, pendanaan riset swasta India masih tertinggal dari China dan AS, dengan potensi tambahan hingga $15 miliar pada 2030.

Seorang fisikawan Amerika keturunan India, Jainendra Jain, peraih Wolf Prize 2025, baru saja menerima tawaran tak terduga dari pengembang properti Mumbai, Abhishek Lodha: memimpin institut fisika teoretis baru di kota itu. Tawaran senilai 100 juta dolar AS itu menandai perubahan radikal dalam pola filantropi kalangan superkaya India—yang selama puluhan tahun lebih banyak menyalurkan dana ke tempat ibadah ketimbang laboratorium.
Lodha, CEO Lodha Group yang membangun Trump Tower di Mumbai, mengalokasikan dana tersebut untuk delapan hingga sepuluh tahun ke depan. "Saya terkejut seseorang yang membangun gedung pencakar langit tiba-tiba tertarik mendanai sains fundamental. Ini biasa di AS, tapi jarang di India," ujar Jain dalam peluncuran institut tersebut akhir Mei lalu.
Pekan berikutnya, Rajiv Bajaj, pewaris kerajaan bisnis Bajaj, meluncurkan program beasiswa teknik terbesar di India untuk perempuan, dengan dukungan finansial hingga 800.000 rupee per mahasiswa. Langkah ini mengikuti jejak sederet konglomerat lain: Kris Gopalakrishnan (Infosys) mendanai riset otak, Kiran Mazumdar-Shaw mendirikan laboratorium biologi perbatasan pada 2022, dan setidaknya enam miliarder teknologi dari Bengaluru berkomitmen mendanai astronomi robotik hingga riset medis multidisiplin.
Menurut Neera Nundy, salah satu pendiri Dasra, organisasi konsultan filantropi, gelombang baru ini didorong oleh dua kelompok: "Inter-Gen" (pewaris filantropi tradisional) dan "Now-Gen" (pencipta kekayaan baru). "Mereka lebih berbasis data, berorientasi hasil, dan akrab teknologi—sehingga secara alami tertarik pada sains dan inovasi," jelasnya. Namun, Nundy mengingatkan bahwa pendanaan sains masih kecil dibandingkan sektor pendidikan dan kesehatan yang mendominasi arus filantropi India.
India menghadapi tantangan struktural: rendahnya koneksi industri-akademik, krisis kualitas pendidikan tinggi, dan kesenjangan antara output universitas dengan kebutuhan riset. Shaw, pendiri Biocon, mengkritik perusahaan farmasi India yang belum melakukan riset mutakhir. "Peluang penciptaan nilai berikutnya ada pada obat inovatif, yang membutuhkan lebih banyak dana ke lembaga riset," ujarnya.
Lodha optimistis pergeseran ini adalah evolusi alami. "Masyarakat yang sedang membangun diri dulu dilayani filantropi pelayanan. Kini beralih ke filantropi keunggulan," katanya. Pertanyaannya, seberapa cepat ekosistem riset India mampu menyerap gelombang dana ini dan bersaing dengan raksasa riset global seperti China dan AS?



