Harga Minyak Melonjak 5% Setelah AS Cabut Izin Ekspor Minyak Iran
Baca dalam 60 detik
- Pencabutan izin ekspor minyak Iran oleh AS memicu lonjakan harga minyak mentah hingga 5% dalam sepekan.
- Serangan Iran di Selat Hormuz dan respons militer AS memperburuk ketidakpastian pasokan global.
- Volatilitas harga diprediksi berlanjut karena ketegangan geopolitik yang masih tinggi.

Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 5% pada Selasa (7/7) setelah Amerika Serikat mencabut izin umum yang memungkinkan penjualan minyak Iran, menyusul serangan Iran terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz. Langkah ini memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan dari salah satu jalur energi tersibuk di dunia.
Brent crude ditutup naik 3,01% ke US$74,16 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,76% ke US$70,44. Namun, setelah jam perdagangan resmi, harga kembali melesat—Brent menyentuh US$75,88 dan WTI US$72,20—setelah pengumuman pencabutan lisensi oleh pemerintah AS. Kenaikan ini menjadi yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap setiap perubahan kebijakan di kawasan Teluk.
Keputusan Washington datang setelah Iran menyerang tiga kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai balasan, militer AS melancarkan serangan terhadap sasaran di Iran, menurut pernyataan Komando Pusat AS. Peristiwa ini menandai eskalasi signifikan setelah sebelumnya AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada Juni lalu yang bertujuan mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Analis menilai bahwa langkah AS ini merupakan sinyal bahwa Iran telah melampaui batas, namun dampaknya terhadap kemampuan ekspor Teheran mungkin terbatas. "Saya tidak berpikir kedua pihak memiliki kepentingan untuk tidak mencapai kesepakatan," ujar Bob Yawger, direktur energi futures di Mizuho. Ia menambahkan bahwa masih belum jelas apakah serangan Iran bertujuan untuk menunjukkan otoritas atas Selat Hormuz atau sekadar unjuk kekuatan selama upacara berkabung pemimpin tertinggi yang terbunuh, Ayatollah Ali Khamenei.
Sementara itu, Ajay Parmar, direktur energi dan pemurnian di ICIS, memperingatkan bahwa gencatan senjata yang rapuh dapat sewaktu-waktu runtuh. "Jika Iran hanya mengancam akan menutup Selat Hormuz lagi, harga akan melonjak drastis. Volatilitas benar-benar akan bertahan," katanya. Kekhawatiran ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Iran yang menegaskan bahwa negosiasi tidak akan berlangsung jika ancaman AS berlanjut, merujuk pada pernyataan Presiden Donald Trump yang mengancam akan "menyelesaikan pekerjaan" jika tidak ada kesepakatan.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan US$5 per barel dapat menambah beban belanja negara hingga triliunan rupiah. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak lanjutan terhadap harga bahan bakar domestik dan inflasi.
Di sisi lain, serangan drone Ukraina terhadap delapan kapal tanker Rusia di Laut Hitam—yang merupakan bagian dari "armada bayangan" untuk menghindari sanksi—menambah kompleksitas pasokan global. Dengan dua titik panas geopolitik sekaligus, pasar minyak diprediksi akan terus bergolak dalam waktu dekat. Pertanyaan besarnya: akankah AS dan Iran kembali ke meja perundingan, atau konflik ini justru akan semakin memperdalam krisis energi dunia?



