Payung Anti-UV ala Jepang: iKasa Mini Hadir untuk Lawan Sengatan Matahari Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Layanan berbagi payung iKasa meluncurkan varian mini anti-UV dan anti-panas di 270 stasiun kereta di wilayah Kansai, Jepang.
- iKasa mini diklaim mampu memblokir lebih dari 99,9% sinar ultraviolet dan 99,99% cahaya, menjadi solusi mobilitas di tengah cuaca ekstrem.
- Dengan 920.000 pengguna terdaftar secara nasional, iKasa menargetkan 100.000 pemakaian harian di Kansai, membuka peluang adopsi model serupa di kota-kota besar Indonesia.

Di tengah gelombang panas yang kian ekstrem di Jepang, layanan berbagi payung iKasa meluncurkan inovasi anyar: iKasa mini, payung lipat yang dirancang khusus untuk melindungi dari sengatan matahari dan hujan. Mulai 2 Juli 2026, sebanyak 1.200 unit payung ini tersebar di sekitar 270 stasiun kereta di wilayah Kansai, Jepang barat.
iKasa mini bukan sekadar payung biasa. Dengan berat hanya 250 gram dan jari-jari sepanjang 60 sentimeter, payung ini diklaim mampu memblokir lebih dari 99,9% sinar ultraviolet dan memiliki tingkat perlindungan cahaya di atas 99,99%. Dua desain edisi terbatas dengan motif tradisional Jepang turut disediakan, masing-masing sebanyak 30 unit. Layanan ini dioperasikan oleh Nature Innovation Group (NIG) yang berbasis di Tokyo, bekerja sama dengan delapan perusahaan kereta api, termasuk Osaka Metro, Hankyu Railway, dan Kintetsu Railway.
Langkah ini merupakan perluasan dari layanan berbagi payung iKasa yang pertama kali diluncurkan pada Desember 2018 dengan misi mengurangi penggunaan payung sekali pakai. Setelah memulai operasi penuh di Kansai pada Juni 2025, hingga Juni 2026 iKasa telah memiliki lebih dari 500 titik peminjaman di stasiun kereta, pusat perbelanjaan, dan gedung perkantoran. Pengguna cukup memindai kode QR di titik peminjaman melalui aplikasi ponsel untuk membuka kunci payung.
Presiden NIG, Shoji Marukawa (31), mengungkapkan bahwa layanan berbagi payung sudah dikenal luas di wilayah Kanto (Tokyo dan sekitarnya), namun masih dalam tahap pengembangan di Kansai. โPotensi pertumbuhannya sangat besar,โ ujarnya. Perusahaan menargetkan total 100.000 pengguna harian untuk payung hujan dan payung matahari di wilayah tersebut. Hingga saat ini, iKasa memiliki sekitar 920.000 pengguna terdaftar secara nasional, dengan 100.000 di antaranya berada di Kansai.
Bagi Indonesia, inovasi ini menawarkan gambaran solusi mobilitas perkotaan di tengah ancaman cuaca ekstrem. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung kerap dilanda panas terik dan hujan tak menentu. Model berbagi payung seperti iKasa bisa menjadi alternatif untuk mengurangi sampah payung plastik sekali pakai dan melindungi warga dari paparan UV yang berbahaya. Meski tantangan infrastruktur dan kebiasaan masyarakat berbeda, adopsi teknologi serupa patut dipertimbangkan, terutama di area transit publik padat.
Ke depan, kesuksesan iKasa di Jepang akan menjadi tolok ukur apakah model bisnis berbagi payung dapat bertahan dan berkembang di negara tropis seperti Indonesia. Akankah kita melihat stasiun MRT atau halte TransJakarta dipenuhi payung anti-UV yang bisa dipinjam kapan saja? Atau justru model lain yang lebih sesuai dengan karakter lokal? Waktu yang akan menjawab, namun inovasi ini setidaknya membuka mata akan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim melalui layanan berbagi yang cerdas.



