Neraca Berjalan Jepang Melonjak 19,5% di Mei: Ekspor Semikonduktor dan Mobil Jadi Motor
Baca dalam 60 detik
- Surplus neraca berjalan Jepang mencapai 3,97 triliun yen (Rp 400 triliun) pada Mei 2025, didorong ekspor semikonduktor dan otomotif yang kuat.
- Pendapatan primer dari investasi luar negeri juga naik 2,3%, menandakan kekuatan finansial Jepang di tengah ketidakpastian global.
- Kinerja ini mengindikasikan daya saing industri Jepang yang masih tinggi, namun perlu diwaspadai dampaknya terhadap neraca perdagangan Indonesia yang kerap defisit dengan Jepang.

Surplus neraca berjalan Jepang melesat 19,5 persen secara tahunan menjadi 3,97 triliun yen (setara Rp 400 triliun) pada Mei 2025, didorong oleh lonjakan ekspor perangkat semikonduktor dan kendaraan bermotor. Data Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Rabu (8/7) menunjukkan bahwa keseimbangan perdagangan barang berhasil berbalik dari defisit 497,1 miliar yen pada Mei tahun lalu menjadi surplus 6,9 miliar yen.
Ekspor Jepang tumbuh 14,7 persen menjadi 9,36 triliun yen, sementara impor hanya naik 8,1 persen menjadi 9,35 triliun yen. Angka ini mengindikasikan bahwa permintaan global terhadap produk-produk buatan Negeri Sakura masih kuat, terutama di sektor teknologi dan otomotif. Pendapatan primerโyang mencerminkan imbal hasil investasi luar negeri Jepangโjuga meningkat 2,3 persen menjadi 4,28 triliun yen, menambah pundi-pundi surplus.
Bagi Indonesia, capaian Jepang ini memiliki arti strategis. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dengan neraca perdagangan yang kerap surplus bagi Jepang. Lonjakan ekspor semikonduktor dan otomotif Jepang menunjukkan bahwa permintaan domestik Indonesia terhadap produk-produk tersebut masih tinggi, namun juga mengindikasikan bahwa Indonesia perlu meningkatkan daya saing ekspornya agar tidak terus-terusan mengalami defisit. Menurut analis ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Wijaya, "Kinerja ekspor Jepang yang kuat ini bisa menjadi sinyal bagi Indonesia untuk memperkuat industri substitusi impor, terutama di sektor komponen elektronik dan otomotif."
Pendapatan primer Jepang yang terus tumbuh juga patut dicermati. Aliran modal keluar dari Indonesia ke Jepang dalam bentuk repatriasi keuntungan investasi bisa menekan nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi dengan investasi langsung yang masuk. Namun, di sisi lain, surplus Jepang yang besar juga berarti Negeri Sakura memiliki daya beli yang kuat untuk berinvestasi di luar negeri, termasuk di Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah momentum ekspor Jepang ini akan bertahan di tengah perlambatan ekonomi global dan ketegangan geopolitik. Bagi Indonesia, menjaga hubungan dagang yang seimbang dengan Jepang sambil mendorong hilirisasi industri dalam negeri menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperbaiki neraca perdagangan bilateral.



