AS Gempur Iran di Selat Hormuz, Eskalasi Perang Mengancam Kesepakatan Damai
Baca dalam 60 detik
- Militer AS melancarkan serangan baru ke Iran setelah tiga kapal dagang dihantam di Selat Hormuz, memperkeruh upaya gencatan senjata.
- Washington mencabut izin penjualan minyak Iran yang merupakan insentif dalam kesepakatan sementara, sebagai respons atas serangan terhadap tanker.
- Serangan terjadi di tengah pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, menambah ketidakpastian negosiasi nuklir dan stabilitas energi global.

Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran Iran di Selat Hormuz pada Rabu dini hari, hanya beberapa jam setelah tiga kapal niaga menjadi sasaran tembakan di jalur perairan strategis tersebut. Eskalasi ini menempatkan kesepakatan sementara yang dirancang untuk mengakhiri konflik antara kedua negara di ujung tanduk.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas di awal perang. Langkah Washington dipastikan akan mempersulit negosiasi yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya, membatasi program nuklir Tehran, dan mencapai perdamaian permanen setelah perang yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Komando Pusat AS dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa serangan itu dimaksudkan untuk "menimbulkan biaya berat" atas serangan terhadap pelayaran komersial yang diawaki warga sipil di perairan internasional. Seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengungkapkan bahwa target operasi meliputi sistem pertahanan udara, sistem pengawasan pantai, rudal darat-ke-udara, serta lokasi peluncuran rudal jelajah anti-kapal dan drone. Fasilitas pelabuhan Iran juga masuk dalam daftar sasaran.
Pejabat lain menambahkan bahwa serangan ini diperkirakan berlangsung selama beberapa jam dan akan mengenai delapan kali lebih banyak target dibandingkan putaran serangan balasan sebelumnya pada akhir Juni. "Iran tidak mendengarkan, jadi kami menaikkan volume," ujarnya. Media pemerintah Iran melaporkan suara ledakan di Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa serangan AS melanggar kesepakatan sementara.
Dalam perkembangan terpisah, AS mencabut izin yang mengizinkan penjualan minyak Iran sebagai bagian dari kesepakatan sementara, hanya beberapa jam setelah tiga tanker dihantam proyektil. Seorang pejabat AS mengatakan pencabutan itu dilakukan karena tindakan Iran di selat tersebut tidak dapat diterima. Kementerian Luar Negeri Iran mengecam langkah itu dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan.
Salah satu tanker yang melintas di lepas pantai Oman terkena serangan dan terbakar, menurut Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris. Dua kapal lainnya mengalami kerusakan namun tidak ada korban jiwa. Lokasi serangan menunjukkan bahwa kapal-kapal itu kemungkinan menggunakan jalur dekat Oman, bukan rute yang disetujui Iran. Qatar, melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya, mengecam serangan terhadap tanker Al Rekayyat dan menyatakan Iran bertanggung jawab penuh.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz membawa risiko langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri dan memperburuk tekanan inflasi. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini dalam menyusun kebijakan subsidi energi dan cadangan strategis.
Sementara itu, prosesi pemakaman Khamenei terus berlangsung. Jenazahnya diterbangkan ke Qom, kota pusat seminari Syiah, di mana ratusan ribu pelayat berkumpul. Putranya, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi baru, belum muncul di hadapan publik dan dikabarkan bersembunyi setelah terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya. Jenazah Khamenei rencananya akan dimakamkan di Mashhad pada Kamis.
Dengan negosiasi yang terhenti dan kekuatan militer yang terus meningkat, pertanyaan besarnya adalah: apakah masih ada ruang bagi diplomasi, atau Selat Hormuz akan menjadi medan perang terbuka yang mengubah peta energi global?



