Kristin Davis: Ketakutan Jadi Ibu dan Tekanan Sosial yang Membelenggu Perempuan
Baca dalam 60 detik
- Aktris Sex and the City, Kristin Davis, mengaku sangat ketakutan sebelum memutuskan menjadi ibu melalui adopsi.
- Ia mengkritik anggapan masyarakat bahwa perempuan tidak lengkap tanpa anak, dan mendorong perempuan untuk membebaskan diri dari tekanan sosial.
- Davis juga berbagi perjuangan menyeimbangkan karier dan keluarga, termasuk rasa bersalah saat syuting And Just Like That…

Kristin Davis, aktris yang dikenal lewat perannya sebagai Charlotte di serial Sex and the City, mengaku sempat diliputi ketakutan luar biasa sebelum memutuskan menjadi ibu. Dalam wawancara terbaru, ia mengungkapkan bahwa keputusan mengadopsi anak bukanlah langkah yang diambil dengan ringan, melainkan hasil perenungan panjang melawan norma sosial yang kerap menekan perempuan.
Davis mengadopsi putrinya, Gemma Rose, pada 2011 dan putranya, Wilson, pada 2018. Namun, sebelum itu, ia mengaku tidak pernah berniat menikah atau memiliki anak. “Saya sangat takut. Sangat, sangat takut, sehingga butuh waktu cukup lama bagi saya untuk melakukannya,” ujarnya dalam podcast Dinner’s on Me bersama Jesse Tyler Ferguson.
Dalam perbincangan tersebut, Davis menyerukan agar setiap perempuan yang mempertimbangkan menjadi ibu benar-benar menguji motivasi diri. Ia menolak anggapan bahwa perempuan harus menjadi ibu untuk merasa utuh. “Gagasan bahwa Anda tidak lengkap kecuali memiliki anak adalah sangat keliru. Tidak semua orang cocok menjadi orang tua,” tegasnya.
Davis juga menyoroti tekanan sosial yang kerap membuat perempuan merasa bersalah jika memilih karier, perjalanan, atau ambisi lain ketimbang menjadi ibu. “Kita tidak perlu meminta maaf karena ambisius atau ingin bekerja, bepergian, atau menjadi petualang. Sebagai perempuan, kita harus benar-benar bekerja untuk melepaskan diri dari apa yang masyarakat katakan seharusnya kita lakukan,” tambahnya.
Di Indonesia, tekanan serupa juga dialami banyak perempuan. Norma budaya yang kuat seringkali menempatkan peran ibu sebagai takdir utama, sementara pilihan untuk tidak menikah atau tidak memiliki anak masih dipandang sebelah mata. Pernyataan Davis bisa menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dan kelengkapan hidup tidak semata-mata ditentukan oleh status sebagai orang tua.
Selain tekanan sosial, Davis juga mengungkapkan perjuangan nyata dalam menyeimbangkan karier dan keluarga. Saat syuting And Just Like That…—sekuel Sex and the City—ia harus terbang pulang pergi setiap akhir pekan untuk menemui anak-anaknya. “Tujuh bulan adalah waktu syuting yang panjang, dan lama sekali harus bolak-balik setiap akhir pekan untuk melihat anak-anak. Saya tidak ingin mengeluarkan mereka dari sekolah karena putri saya baru saja memulai SMP,” kenangnya.
Rasa bersalah pun tak terhindarkan. “Anak saya yang berusia lima tahun tidak terima. Dia marah. Jadi saya harus pulang setiap akhir pekan karena saya merasa sangat bersalah. Inilah yang terjadi ketika mencoba mencari keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan,” ujar Davis.
Kisah Davis menyoroti dilema universal yang dihadapi banyak ibu bekerja: bagaimana membagi waktu antara tuntutan profesi dan kebutuhan anak. Di Indonesia, isu ini juga relevan, terutama bagi perempuan yang berkarier di kota besar dengan jam kerja panjang. Dukungan dari pasangan, keluarga, dan tempat kerja menjadi krusial untuk meringankan beban tersebut.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: akankah masyarakat mulai lebih menghargai pilihan perempuan, baik yang memilih menjadi ibu maupun tidak? Ataukah tekanan sosial akan terus membayangi setiap keputusan personal?



