Arthur Fery: Petenis Pendek yang Mengancam Dominasi Raksasa Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris peringkat 114 dunia, Arthur Fery, melaju ke perempat final Wimbledon setelah mengalahkan Grigor Dimitrov.
- Dengan tinggi hanya 175 cm, Fery mengandalkan kelincahan dan voli untuk mengimbangi pemain jangkung, menjadi yang terbaik dalam pergerakan di antara finalis.
- Ia akan menghadapi unggulan kesembilan Flavio Cobolli pada Rabu, dengan modal kemenangan di Australian Open 2025.

Arthur Fery, petenis Inggris berperingkat 114 dunia, menjadi kejutan terbesar Wimbledon tahun ini setelah melaju ke perempat final. Dalam laga yang berlangsung di lapangan rumput All England Club, pemain berusia 23 tahun itu sukses menyingkirkan Grigor Dimitrov, unggulan asal Bulgaria, dengan performa yang membuatnya sendiri terkejut. Kini, ia bersiap menghadapi tantangan lebih berat: Flavio Cobolli, unggulan kesembilan asal Italia yang baru saja menjadi runner-up Prancis Terbuka.
Fery, yang tinggal hanya beberapa langkah dari All England Club, telah menunjukkan bahwa tinggi badan bukanlah segalanya. Dengan tinggi 5 kaki 9 inci (sekitar 175 cm), ia termasuk petenis pendek di ATP Tour, namun justru kelincahannya menjadi senjata utama. Data menunjukkan Fery memenangkan 78% poin saat serve and volley, serta 63% poin di net—persentase tertinggi kedua di antara peserta putra. Ia juga dinobatkan sebagai pemain dengan pergerakan terbaik di antara delapan finalis, mengungguli Cobolli dan unggulan utama Jannik Sinner.
Strategi yang diusung Fery cukup unik: ia tidak mengandalkan servis keras seperti 'servebots' pada umumnya, melainkan kecepatan dan timing pukulan yang presisi. Menurut Jamie Delgado, pelatih Dimitrov, Fery mampu memukul bola pada ketinggian berbeda dan mencampur kecepatan dengan baik. "Dia salah satu yang terbaik dalam mengambil bola dan bertahan dalam reli," ujar Delgado. Sementara itu, Jamie Murray, analis BBC Sport, menyarankan Fery untuk menerapkan taktik "crush and rush" pada servis kedua Cobolli—mengembalikan dengan agresif lalu segera maju ke net. Hal ini diyakini dapat menetralisir pergerakan Cobolli yang juga atletis, mengingat ia pernah menjadi pemain sepak bola di akademi Roma.
Kemenangan atas Cobolli bukanlah hal baru bagi Fery. Pada Australian Open Januari lalu, ia mengalahkan Cobolli dalam tiga set langsung (7-6, 6-4, 6-1) di debut grand slam luar negerinya, meskipun saat itu Cobolli mengalami masalah perut. "Mengalahkan pemain top meningkatkan kepercayaan diri, dan penting juga karena dia tahu apa yang diharapkan dari lawan seperti Cobolli," kata Jeroen Benard, pelatih Fery. Namun, Benard mengingatkan bahwa Cobolli pasti mengincar revans. "Mereka sudah saling kenal sejak junior, jadi ini bukan pertarungan asing."
"Arthur tidak terlihat takut pada situasi apa pun. Cara dia membawa diri dan berjalan—seolah dia memang pantas berada di sana." — Kyle Edmund, mantan petenis nomor satu Inggris
Dukungan penonton tuan rumah juga menjadi faktor penting. Fery memanfaatkan semangat 15.000 penonton di Centre Court saat melawan Dimitrov, dan diperkirakan akan kembali mengandalkan atmosfer patriotik pada laga nanti. Di luar lapangan, Fery digambarkan sebagai pribadi yang tenang namun humoris. Rekan setimnya, Felix Gill, menyebutnya "konyol" dan "lucu", sementara Benard menambahkan bahwa timnya tetap santai dengan menonton cuplikan Piala Dunia dan mengobrol ringan sebelum pertandingan. "Dia pria normal berusia 23 tahun yang kebetulan sangat hebat dalam olahraga," ujar Benard.
Pertandingan perempat final antara Fery dan Cobolli dijadwalkan berlangsung pada Rabu. Jika menang, Fery akan menjadi petenis Inggris kelima yang mencapai semifinal Wimbledon sejak 1968. Pertanyaan besarnya: dapatkah ia mempertahankan performa impresifnya dan mengatasi tekanan sebagai underdog? Atau justru Cobolli yang akan membalaskan kekalahan di Melbourne?



