Ledakan Guncang Damaskus Saat Macron Berkunjung: 18 Terluka
Baca dalam 60 detik
- Dua ledakan terjadi di dekat hotel tempat Presiden Prancis Emmanuel Macron mengadakan pertemuan di Damaskus, melukai 18 orang termasuk polisi.
- Macron tidak terdampak langsung dan tetap melanjutkan pertemuan dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, menandai kunjungan pertama pemimpin Uni Eropa sejak rezim Assad tumbang.
- Insiden ini menyoroti tantangan keamanan yang masih membayangi transisi politik Suriah, dengan kelompok seperti ISIS masih aktif melancarkan serangan.

Dua bom meledak di kawasan pusat Damaskus, Selasa (7/7), tak jauh dari hotel tempat Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar pertemuan dengan kelompok masyarakat sipil. Otoritas Suriah melaporkan 18 orang terluka, termasuk empat aparat kepolisian, dalam insiden yang langsung menyedot perhatian internasional.
Ledakan pertama terjadi tak lama setelah iring-iringan kendaraan Macron meninggalkan hotel menuju istana kepresidenan. Rekaman Reuters memperlihatkan kobaran api dan asap hitam membumbung dari sebuah tempat sampah, disusul ledakan kedua beberapa meter di depan ambulans yang tengah bersiaga. Puluhan warga yang sempat berkumpul di lokasi berhamburan saat petugas pemadam berupaya menjinakkan api.
Kunjungan Macron merupakan yang pertama dilakukan oleh kepala negara anggota Uni Eropa utama sejak koalisi pimpinan Ahmed al-Sharaa berhasil menggulingkan Bashar al-Assad pada 2024. Kunjungan ini dimaksudkan untuk menunjukkan dukungan Barat terhadap transformasi politik Suriah di bawah Sharaa, yang mulai menjalin hubungan dengan negara-negara yang sebelumnya memusuhi rezim Assad.
Meski ledakan mengguncang lokasi yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari hotel, pihak Istana Kepresidenan Prancis menegaskan bahwa Macron tidak mendengar suara ledakan tersebut. Seorang jurnalis Reuters yang tergabung dalam rombongan pers juga tidak mendengar dentuman atau melihat kepanikan selama rangkaian acara pagi itu. Presiden Prancis tetap menjalankan agenda sesuai rencana dan bertemu dengan Sharaa serta sejumlah pejabat militer Suriah.
Otoritas keamanan Suriah langsung melancarkan operasi pencarian pelaku. Jaringan televisi negara Al-Ekhbariya mengutip sumber keamanan yang menyebutkan bahwa jalan-jalan di sekitar lokasi telah ditutup dan langkah-langkah pengamanan diperketat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Ledangan ini menjadi pengingat bahwa transisi politik Suriah masih dihantui ancaman keamanan. Kelompok seperti Islamic State (ISIS) yang sempat menguasai sebagian wilayah Suriah dalam konflik 13 tahun terakhir, kembali menunjukkan taringnya. Sejak Februari lalu, ISIS mengumumkan fase baru operasi melawan pemerintah Sharaa dan telah mengklaim serangkaian serangan terhadap pasukan pemerintah. Pekan lalu, sebuah bom di sebuah kafe Damaskus menewaskan sembilan orang dan melukai 20 lainnya.
Bagi Indonesia, situasi di Suriah memiliki relevansi tersendiri. Pemerintah Indonesia selama ini mengikuti perkembangan politik Suriah, terutama terkait nasib warga negara Indonesia yang masih berada di sana dan potensi gelombang radikalisme yang bisa menyebar. Stabilitas Suriah juga berpengaruh pada dinamika geopolitik Timur Tengah yang kerap berdampak pada harga energi dan arus perdagangan global.
Sharaa, yang berasal dari mayoritas Muslim Sunni, berjanji membangun tatanan baru yang inklusif setelah lebih dari lima dekade kekuasaan otoriter keluarga Assad. Namun, janji tersebut terus diuji oleh kekerasan sektarian yang menewaskan ratusan orang tahun lalu. Kunjungan Macron, meskipun berjalan tanpa insiden langsung, mempertegas bahwa jalan menuju rekonsiliasi dan keamanan di Suriah masih panjang dan penuh jebakan.



