Fragmen Ekosistem Jadi Penghambat, Bos NNPC Dorong Kolaborasi Global Buka Potensi Energi Afrika
Baca dalam 60 detik
- Direktur Utama NNPC Ltd., Bashir Ojulari, menekankan bahwa keterpecahan institusi, bukan kekurangan sumber daya, menjadi hambatan utama pengembangan energi Afrika.
- Afrika memiliki 17% cadangan gas global dan potensi energi terbarukan melimpah, namun hanya menarik sedikit investasi energi dunia akibat lemahnya kemitraan strategis.
- Ojulari mengajak pergeseran dari hubungan transaksional ke kemitraan jangka panjang guna membangun rantai nilai terintegrasi dan mendorong industrialisasi berbasis energi.

Direktur Utama Nigerian National Petroleum Company (NNPC) Ltd., Bashir Ojulari, menegaskan bahwa masa depan energi Afrika tidak ditentukan oleh besarnya cadangan sumber daya alam, melainkan oleh kemampuan membangun ekosistem kolaboratif yang utuh. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato kunci di ajang Nigerian Oil and Gas (NOG) Energy Week 2026 di Abuja, Selasa (10/6).
Menurut Ojulari, tantangan terbesar yang dihadapi benua Afrika saat ini bukanlah kelangkaan hidrokarbon, talenta, atau peluang. "Yang menjadi masalah adalah fragmentasi ekosistem yang diperlukan untuk mengubah sumber daya menjadi kemakmuran," ujarnya di hadapan para pemangku kepentingan industri migas. Ia mencontohkan, lemahnya koordinasi antara pemerintah, perusahaan minyak nasional, investor, regulator, lembaga keuangan, penyedia teknologi, dan masyarakat sekitar kerap menyebabkan proyek-proyek energi mandek dan investasi menguap.
Ojulari mengingatkan bahwa perubahan lanskap energi globalโmulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga gangguan rantai pasok maritimโsemakin mempertegas urgensi kemitraan yang tangguh. "Pemenang era energi berikutnya bukanlah mereka yang memiliki cadangan terbesar, melainkan yang mampu membangun kemitraan paling efektif dan ekosistem paling tangguh di sekitar cadangan tersebut," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Ojulari juga menyoroti transformasi internal NNPC Ltd. yang mulai menunjukkan hasil. Pada konferensi tahun lalu, ia menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan, akuntabilitas, dan penciptaan nilai. Kini, perusahaan BUMN migas Nigeria itu berkomitmen untuk terus memperkuat kinerja, transparansi, dan akuntabilitas. "Kami semakin melihat NNPC Limited bukan sekadar produsen energi, tetapi sebagai pembangun ekosistem yang menghubungkan modal, teknologi, kebijakan, talenta, dan pasar untuk menciptakan nilai abadi bagi Nigeria dan Afrika," paparnya.
Bagi Indonesia, pesan Ojulari relevan mengingat posisi serupa sebagai negara dengan sumber daya energi besar namun masih bergulat dengan tantangan investasi dan efisiensi tata kelola. Pengalaman NNPC dalam merombak model bisnis dari operator tradisional menjadi pengelola ekosistem dapat menjadi pelajaran berharga bagi Pertamina dan perusahaan energi nasional lainnya. Apalagi, Indonesia juga tengah mendorong hilirisasi migas dan transisi energi yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Ojulari menekankan perlunya stabilitas kerangka regulasi yang transparan, penguatan hubungan riset-industri, serta percepatan pengembangan kapasitas teknis lokal. Ia membayangkan Afrika masa depan di mana sumber daya energi mendorong industrialisasi, gas menjadi tulang punggung rumah tangga dan industri, inovasi memacu pertumbuhan ekonomi, dan benua itu muncul sebagai pusat investasi energi global. "Peluang di depan kita luar biasa. Tanggung jawab ada di tangan kita, dan waktu untuk bertindak adalah sekarang," pungkasnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah negara-negara kaya sumber daya seperti Nigeria dan Indonesia keluar dari perangkap fragmentasi dan benar-benar memanfaatkan momentum kolaborasi global? Jawabannya akan menentukan apakah Afrika dan Asia Tenggara hanya akan menjadi pemasok bahan mentah atau justru pemain utama dalam peta energi abad ke-21.



