Wabah Ebola di Kongo Belum Terkendali, WHO: Masih Fase Ekspansi
Baca dalam 60 detik
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo masih dalam fase ekspansi dengan 1.561 kasus dan 506 kematian.
- Tingkat okupansi pusat perawatan mencapai 90%, sementara pekerja tambang yang sakit justru bepergian dan menyebarkan virus ke wilayah baru.
- Mobilitas penduduk, ketidakamanan, dan lemahnya sistem kesehatan menjadi tantangan utama pengendalian wabah yang belum ada obatnya ini.

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo masih jauh dari terkendali. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (18/2) mengonfirmasi bahwa penyebaran virus terus meluas, dengan total kasus mencapai 1.561 orang dan 506 di antaranya meninggal dunia. Angka ini menjadikan wabah kali ini sebagai yang terburuk akibat spesies Bundibugyo, varian langka Ebola yang belum memiliki pengobatan atau vaksin yang terbukti efektif.
Dr. Anne Ancia, perwakilan WHO di Kongo, mengakui bahwa situasi di lapangan masih mengkhawatirkan. โSayangnya, wabah ini masih dalam fase ekspansi. Kami ingin mengatakan bahwa situasi mulai stabil, tapi sejujurnya kami belum bisa menyatakan demikian,โ ujarnya. Pernyataan ini sekaligus membantah optimisme sebelumnya yang sempat muncul di kalangan petugas kesehatan.
Salah satu indikator paling nyata adalah tingkat hunian pusat perawatan Ebola yang sudah nyaris penuh. Menurut Ancia, beberapa fasilitas mencatat okupansi hingga 90 persen. Artinya, kapasitas untuk menampung pasien baru semakin terbatas di tengah lonjakan kasus yang masih berlangsung.
Faktor lain yang memperumit penanganan adalah perilaku pekerja tambang di kota Mongbwalu. Alih-alih mencari perawatan di fasilitas setempat, banyak dari mereka yang jatuh sakit justru memilih bepergian ke daerah lain. Mobilitas ini secara langsung menyebarkan virus ke wilayah-wilayah baru yang sebelumnya tidak terjangkit. โPergerakan penduduk, ketidakamanan yang terus terjadi, dan kerapuhan sistem kesehatan masih menjadi kendala besar,โ tambah Ancia.
Bagi Indonesia, wabah ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular lintas batas. Meski risiko penularan langsung ke Indonesia masih rendah, mobilitas global dan rantai perjalanan udara membuat potensi impor kasus tetap ada. Pengalaman menghadapi wabah sebelumnya, seperti flu burung dan COVID-19, menunjukkan bahwa deteksi dini dan respons cepat adalah kunci. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perlu memperkuat sistem surveilans di pintu masuk negara, terutama bagi pelancong yang baru tiba dari Afrika Tengah.
Ke depan, efektivitas pengendalian wabah di Kongo akan sangat bergantung pada kemampuan otoritas setempat dan WHO untuk mengatasi hambatan logistik dan keamanan. Tanpa intervensi yang lebih agresif, bukan tidak mungkin wabah ini akan terus meluas dan menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah komunitas internasional bergerak lebih cepat sebelum wabah ini berubah menjadi krisis regional yang lebih besar?



