AS Bombardir Iran di Selat Hormuz: Eskalasi Baru yang Mengancam Pasokan Energi Global
Baca dalam 60 detik
- Militer AS melancarkan serangan ke sasaran pertahanan udara dan rudal Iran di selatan negara itu setelah tiga kapal dagang diserang di Selat Hormuz.
- Serangan ini terjadi bersamaan dengan pencabutan izin ekspor minyak Iran oleh Washington, memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran di tengah negosiasi yang rapuh.
- Kenaikan harga minyak lebih dari 2 persen dan kekhawatiran atas kebebasan navigasi menjadi dampak langsung yang dirasakan pasar global, termasuk Indonesia sebagai importir energi.

Washington melancarkan serangan militer ke sejumlah instalasi strategis Iran di pesisir Selat Hormuz pada Selasa (7/7), sebagai respons langsung atas serangan terhadap tiga kapal niaga di jalur perairan tersibuk dunia itu. Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang sebelumnya sempat mereda setelah gencatan senjata rapuh antara kedua negara.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan yang mereka sebut "kuat" itu ditujukan untuk "memberikan biaya berat" bagi aksi Iran yang menargetkan pelayaran komersial. Menurut seorang pejabat AS yang berbicara kepada Reuters, sasaran serangan meliputi sistem pertahanan udara, radar pesisir, rudal permukaan-ke-udara, rudal jelajah anti-kapal, serta lokasi peluncuran drone Iran. Ledakan dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm, Kota Sirik, dan Bandar Abbas, kota pelabuhan utama Iran.
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Washington mencabut sementara keringanan sanksi yang memungkinkan Iran mengekspor minyak mentah hingga 21 Agustus. Keputusan itu, menurut Departemen Keuangan AS, membatalkan lisensi yang baru diberikan pada Juni lalu. Seorang pejabat AS kepada AFP menegaskan bahwa nota kesepahaman (MoU) dengan Iran bersifat "berbasis kinerja penuh", di mana Teheran hanya akan mendapat manfaat jika menunjukkan "perilaku baik". Namun, negosiator AS disebut tetap bekerja "dengan itikad baik menuju kesepakatan akhir".
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran berulang terhadap MoU yang telah disepakati. Dalam pernyataan yang disiarkan IRIB News, Teheran memperingatkan akan "mengambil tindakan tegas untuk melindungi kepentingan dan keamanan nasional". Sebelumnya, Iran juga menyatakan "kekecewaan" atas tuduhan Qatar yang menyalahkan Teheran atas serangan terhadap kapal tanker LNG mereka. Doha bahkan memanggil kuasa usaha Iran untuk menyampaikan protes resmi.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak mentah dan LNG, setiap gangguan di jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global ini berpotensi menekan harga energi domestik dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Kenaikan harga minyak lebih dari 2 persen dalam sehari menjadi sinyal yang tidak nyaman bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mengasumsikan harga minyak Indonesia (ICP) di level tertentu. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini, terutama jika konflik berlarut-larut dan mengganggu rantai pasok energi nasional.
Menurut Andreas Krieg, analis keamanan dari King's College London, Iran tengah mengirim sinyal bahwa tidak ada alternatif selain sistem biaya atau tol yang mereka usulkan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. "Kapal tanker yang mencoba memotong melalui koridor Oman tanpa mendaftar ke Iran akan dihukum," ujarnya kepada AFP. Krieg menilai serangan terhadap kapal-kapal itu sebagai "pelanggaran jelas" terhadap gencatan senjata dan hukum internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah serangan balasan AS ini akan membuka babak baru konfrontasi terbuka, atau justru memaksa kedua belah pihak kembali ke meja perundingan. MoU 14 poin yang ditandatangani bulan lalu sebenarnya mewajibkan Iran dan Omanโyang berbatasan dengan Selat Hormuzโuntuk merundingkan tata kelola jalur pelayaran tersebut bersama negara-negara Teluk lainnya. Namun, dengan serangan ini, prospek diplomasi kembali diuji. Doha, yang sebelumnya enggan menjadi mediator, kini justru mengambil peran lebih aktif dengan menjadi tuan rumah perundingan tidak langsung antara AS dan Iran pekan lalu. Akankah langkah militer ini justru memperkuat posisi tawar Iran, atau sebaliknya?



