Christian Horner Kembali ke Paddock F1 Setahun Setelah Dipecat: Siap Kembali Hanya Jika Bisa Menang
Baca dalam 60 detik
- Christian Horner, mantan bos Red Bull Racing, kembali ke sirkuit F1 di Grand Prix Inggris untuk pertama kalinya sejak dipecat setahun lalu.
- Ia mengaku tidak menaruh dendam dan kini menjadi agen bebas setelah masa gardening leave berakhir, namun hanya akan kembali jika mendapat peran yang memungkinkannya menang.
- Spekulasi mengaitkan Horner dengan tim Alpine dan Aston Martin, tetapi ia menegaskan tidak akan kembali hanya demi pekerjaan.

Christian Horner, pria yang selama dua dekade membesarkan Red Bull Racing menjadi kekuatan dominan Formula Satu, akhirnya kembali menginjakkan kaki di paddock Grand Prix Inggris, Minggu (5/7). Ini adalah kali pertama ia tampil di arena balap sejak dipecat sebagai kepala tim pada Juli tahun lalu. Namun, kepulangannya bukan sekadar nostalgia—ia memberi sinyal bahwa dirinya hanya akan kembali secara penuh jika ada jaminan untuk menjadi pemenang lagi.
Horner diundang langsung oleh presiden Federasi Otomotif Internasional (FIA), Mohammed Ben Sulayem, dan CEO Formula One, Stefano Domenicali, untuk hadir di Silverstone. Kehadirannya langsung menjadi sorotan mengingat kontribusinya yang luar biasa: delapan gelar juara dunia pembalap (empat bersama Sebastian Vettel dan empat bersama Max Verstappen) serta enam gelar konstruktor. Namun, masa kejayaan itu berakhir ketika ia digantikan oleh Laurent Mekies pada 9 Juli tahun lalu.
Dalam wawancara pertamanya sejak kepergiannya dengan The Times, Horner mengaku tidak menyimpan dendam. Masa 'cuti berkebun' yang melarangnya bekerja untuk tim lain kini telah berakhir, menjadikannya agen bebas. Namun, ia bersikeras bahwa kembalinya ke dunia balap harus memiliki tujuan yang jelas. "Saya tidak tertarik hanya menjadi angka dalam mesin. Saya sudah lebih dari cukup membuktikan kemampuan saya. Jika kembali, itu hanya untuk posisi yang memberdayakan saya membuat perubahan, mendorong perbedaan, dan menang," ujarnya.
Horner, yang juga dikenal luas lewat serial Netflix Drive to Survive berkat rivalitas sengitnya dengan bos Mercedes Toto Wolff, mengakui bahwa ia merindukan persaingan. Namun, ia tidak merindukan intrik politik di paddock. "Saya sedikit merindukan kompetisi, tetapi saya tidak merindukan politik dan omong kosong di sekitarnya," katanya. Ia menegaskan bahwa pembicaraan dengan sejumlah tim—termasuk Alpine milik Renault dan Aston Martin—memang terjadi secara alami, tetapi ia tidak merasa terdesak untuk kembali.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kembalinya Horner bisa menjadi angin segar. Dengan potensi bergabungnya ia ke tim seperti Alpine yang kini menggunakan mesin Renault, persaingan di papan tengah bisa semakin menarik. Apalagi, Indonesia tengah gencar mengembangkan ekosistem balap, termasuk rencana sirkuit Mandalika yang kerap menjadi tuan rumah MotoGP. Kehadiran figur sekaliber Horner di paddock bisa memperkuat daya tarik F1 di kawasan Asia Tenggara.
Namun, Horner juga membawa bayang-bayang kontroversi. Pada 2024, ia sempat menjadi sorotan setelah seorang karyawan wanita menuduhnya melakukan perilaku tidak pantas, meskipun ia kemudian dinyatakan bersih setelah investigasi. Ia menikah dengan penyanyi Spice Girls, Geri Halliwell, dan kerap menjadi figur sentral di paddock. Kini, pertanyaan besarnya adalah: tim mana yang berani memberinya kendali penuh untuk menang, dan akankah ia benar-benar kembali atau memilih pensiun dengan legasi yang sudah terbangun?



